
Selangkung adalah istilah yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam bahasa Jawa. Dalam konteks ekonomi dan pasar, kata ini sering muncul dalam berbagai situasi, seperti harga barang atau jumlah unit tertentu. Namun, banyak orang masih bingung dengan arti sebenarnya dari "selangkung" dan bagaimana penggunaannya dalam kehidupan nyata. Khususnya, pertanyaan seperti "selangkung itu berapa" sering muncul ketika seseorang ingin mengetahui harga suatu barang atau jumlah tertentu yang dinyatakan dalam istilah Jawa.
Dalam dunia perdagangan, istilah selangkung bisa merujuk pada angka 25. Misalnya, jika seseorang mengatakan "harga telur ayam selangkung", maka maksudnya adalah harga telur ayam sebesar Rp25.000 per kilogram. Istilah ini juga sering digunakan dalam konteks lain, seperti nomor antrian, usia, atau nilai nominal. Oleh karena itu, memahami makna selangkung sangat penting untuk memperjelas komunikasi dalam berbagai situasi, baik dalam bisnis maupun kehidupan sehari-hari.
Di tengah perkembangan harga bahan pokok yang fluktuatif, khususnya di Indonesia, istilah "selangkung" menjadi semakin relevan. Banyak pedagang dan konsumen menggunakan istilah ini untuk menyampaikan informasi harga secara singkat dan efisien. Tidak hanya dalam bahasa Jawa, tetapi juga dalam percakapan antar daerah, istilah ini mulai dikenal luas. Dengan demikian, pemahaman tentang "selangkung itu berapa" tidak hanya membantu dalam transaksi jual beli, tetapi juga dalam memahami tren harga di pasar.
Apa Itu Selangkung?
Selangkung merupakan istilah dalam Bahasa Jawa yang memiliki arti "dua puluh lima". Kata ini termasuk dalam Bahasa Jawa Krama Alus, yaitu bentuk bahasa yang lebih formal dan digunakan dalam percakapan resmi atau dalam situasi yang membutuhkan kesopanan. Meskipun berasal dari Bahasa Jawa, istilah ini sudah cukup umum digunakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Jawa dan daerah sekitarnya.
Contoh penggunaan selangkung dalam kalimat bisa dilihat sebagai berikut: - "Sakniki yuswo jenengan enten selangkung dereng?" (Sekarang umur kamu sudah ada dua puluh lima belum?) - "Angsal nomer antrian selangkung." (Dapat nomor antrian dua puluh lima.) - "Sakniki regi lombok selangkung ewu." (Sekarang harga cabai dua puluh lima ribu.)
Penggunaan selangkung dalam kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa istilah ini bisa merujuk pada usia, nomor antrian, atau harga. Oleh karena itu, saat seseorang bertanya "selangkung itu berapa", mereka biasanya sedang menanyakan harga suatu barang atau jumlah tertentu yang dinyatakan dalam angka 25.
Penggunaan Selangkung dalam Perdagangan
Dalam dunia perdagangan, istilah "selangkung" sering digunakan untuk menyampaikan harga barang secara singkat. Contohnya, jika seseorang mengatakan "telur ayam selangkung", maka maksudnya adalah harga telur ayam sebesar Rp25.000 per kilogram. Hal ini membuat komunikasi lebih cepat dan efisien, terutama dalam situasi yang sibuk atau ketika banyak orang yang ingin mengetahui harga barang.
Penggunaan istilah ini juga bisa ditemukan dalam berbagai jenis transaksi, baik di pasar tradisional maupun toko modern. Beberapa pedagang menggunakan istilah "selangkung" untuk menyampaikan informasi harga tanpa harus menyebutkan angka secara lengkap. Ini memudahkan konsumen untuk memahami harga tanpa perlu menghitung atau mencari tahu angka yang dimaksud.
Namun, penting untuk dicatat bahwa penggunaan istilah "selangkung" bisa berbeda-beda tergantung pada daerah atau situasi. Oleh karena itu, memahami konteks penggunaannya sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Harga Telur Ayam Saat Ini
Salah satu contoh penggunaan istilah "selangkung" dalam konteks harga adalah pada harga telur ayam. Sebelumnya, harga telur ayam sempat mengalami peningkatan signifikan, mencapai di atas Rp30.000 per kilogram. Namun, saat ini harga telur ayam telah turun dan berada di kisaran Rp27.000 hingga Rp29.000 per kilogram, tergantung wilayah.
Menurut data dari Kementerian Perdagangan, penurunan harga telur ayam disebabkan oleh produksi dari peternak ayam petelur yang mulai normal. Sebelumnya, harga mahal disebabkan karena populasi ayam peternak yang dipangkas. Plt. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra, menjelaskan bahwa repopulasi ayam peternak telah dilakukan dan akan memberikan hasil yang lebih baik dalam beberapa bulan ke depan.
Meski harga telur ayam telah turun, beberapa wilayah masih melaporkan harga yang relatif tinggi. Namun, Syailendra meyakini bahwa harga akan terus menurun seiring dengan meningkatnya produksi peternak. Ia juga khawatir jika harga telur ayam di pasar turun di bawah Rp27.000 per kilogram, karena hal ini bisa berdampak negatif pada para peternak.
Operasi Pasar Murah dan Stabilitas Harga
Untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, pemerintah dan BUMN Pangan terus melakukan operasi pasar murah. Salah satu contohnya adalah operasi pasar yang digelar di seluruh Indonesia dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET). Dalam operasi ini, daging kerbau beku dijual dengan harga Rp75.000 per kilogram, yang lebih rendah dari HET Rp80.000 per kilogram.
Selain daging kerbau, berbagai bahan pokok seperti minyak goreng, gula, bawang putih, daging ayam, dan beras juga dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan HET. Tujuan dari operasi pasar ini adalah untuk memastikan ketersediaan bahan pokok yang cukup dan harga yang terjangkau bagi masyarakat, terutama selama Ramadan dan Idulfitri.
Operasi pasar ini melibatkan berbagai instansi pemerintah dan BUMN Pangan, seperti Perum BULOG, PT RNI, PTPN, PT Berdikari, dan PT PPI. Dengan kolaborasi ini, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok dan menghindari inflasi yang tidak terkendali.
Tips Menggunakan Istilah "Selangkung"
Jika Anda ingin menggunakan istilah "selangkung" dalam percakapan atau transaksi, berikut beberapa tips yang bisa Anda ikuti:
- Pahami Konteks: Pastikan Anda memahami konteks penggunaan istilah "selangkung" agar tidak terjadi kesalahpahaman.
- Gunakan dalam Situasi Formal: Istilah "selangkung" lebih cocok digunakan dalam situasi formal atau resmi, terutama dalam percakapan antara pedagang dan konsumen.
- Cocokkan dengan Angka 25: Ingat bahwa "selangkung" merujuk pada angka 25. Jadi, jika seseorang mengatakan "harga beras selangkung", artinya harga beras sebesar Rp25.000 per kilogram.
- Perhatikan Wilayah: Penggunaan istilah "selangkung" bisa berbeda-beda tergantung pada daerah. Jadi, pastikan Anda memahami cara penggunaannya di wilayah tempat Anda tinggal.
Dengan memahami dan menggunakan istilah "selangkung" dengan benar, Anda bisa berkomunikasi lebih efisien dan memahami harga bahan pokok dengan lebih mudah.
Kesimpulan
Istilah "selangkung" yang berarti "dua puluh lima" sangat berguna dalam berbagai situasi, terutama dalam dunia perdagangan dan transaksi. Pertanyaan "selangkung itu berapa" sering muncul ketika seseorang ingin mengetahui harga suatu barang atau jumlah tertentu yang dinyatakan dalam angka 25. Memahami arti dan penggunaan istilah ini sangat penting untuk memperjelas komunikasi dan menghindari kesalahpahaman.
Di tengah fluktuasi harga bahan pokok, istilah "selangkung" menjadi semakin relevan. Dengan penggunaan yang tepat, istilah ini bisa membantu Anda dalam memahami harga dan bertransaksi dengan lebih efisien. Selain itu, pemerintah dan BUMN Pangan juga terus berupaya menjaga stabilitas harga bahan pokok melalui operasi pasar murah dan program lainnya.
Dengan demikian, memahami arti dan penggunaan istilah "selangkung" tidak hanya membantu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam memahami dinamika harga di pasar. Jadi, jika Anda pernah mendengar seseorang bertanya "selangkung itu berapa", kini Anda sudah tahu jawabannya.