![]() |
| Program Studi Analisis Kimia, Sekolah Vokasi IPB University, menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Terpadu. (Foto: Dok/Ist). |
Jogjapeka, Bogor — Serangan hama keong sawah masih menjadi persoalan klasik bagi petani padi di berbagai daerah, terutama pada fase awal tanam. Hama ini kerap merusak bibit padi muda hingga menyebabkan kegagalan tanam dan penurunan hasil panen. Di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, permasalahan tersebut juga dirasakan oleh petani setempat yang harus melakukan penyulaman ulang dan menanggung tambahan biaya produksi, 25 Oktober 2025.
Pengendalian
hama keong sawah umumnya masih mengandalkan pestisida kimia. Penggunaan
pestisida secara berulang kerap dikaitkan dengan dampak terhadap kualitas
lingkungan dan potensi risiko kesehatan, terutama bagi petani yang terpapar
langsung. Oleh karena itu, pengembangan alternatif pengendalian hama yang lebih
aman, efektif, dan berbasis sumber daya lokal menjadi penting.
Menjawab
tantangan tersebut, Program Studi Analisis Kimia, Sekolah Vokasi IPB
University, menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Terpadu
berupa pelatihan pembuatan dan penggunaan biopestisida berbahan dasar daun
sukun. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Mulyaharja dan diikuti oleh
anggota Kelompok Tani Dewasa (KTD) Lemah Duhur dengan dukungan Penyuluh
Pertanian Lapang (PPL) setempat.
Penanggung
jawab kegiatan, Mohamad Alief Ramdhan, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa
daun sukun memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan
sebagai pengendali hayati hama keong sawah. Menurutnya, biopestisida ini
dirancang agar dapat dibuat secara mandiri oleh petani dengan bahan yang mudah
diperoleh di sekitar lingkungan mereka. “Kami ingin menghadirkan solusi yang
sederhana, murah, dan tetap efektif, sehingga petani tidak bergantung sepenuhnya
pada pestisida kimia,” ujarnya.
Pelatihan
dilakukan secara langsung dan aplikatif. Mahasiswa Prodi Analisis Kimia memandu
proses pembuatan biopestisida mulai dari pembersihan dan pencacahan daun sukun,
proses ekstraksi menggunakan air dengan perbandingan 1:2, pendiaman larutan
selama 24 jam, hingga penyaringan. Cairan hasil ekstraksi tersebut selanjutnya
dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke tanaman atau dialirkan melalui
saluran irigasi sawah.
Para
petani tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan dan terlibat aktif
dalam praktik pembuatan. Beberapa peserta mencatat takaran dan langkah-langkah
penting agar dapat menerapkan metode tersebut secara mandiri di lahan
masing-masing. Ketua KTD Lemah Duhur, Pak Aneng, menyampaikan bahwa
keong sawah sering menjadi penyebab kerusakan tanaman pada awal masa tanam.
“Kalau bisa dikendalikan sejak awal dengan cara yang lebih aman dan terjangkau,
tentu ini sangat membantu petani,” katanya.
Pelaksanaan
kegiatan ini turut didukung oleh jajaran dosen Prodi Analisis Kimia, yaitu Dr.
Farida Laila, S.Si., M.Si.; Mohamad Alief Ramdhan, S.Si., M.Si.; Wina Yulianti,
S.Si., M.Si.; Faranita Ratih L., S.H., M.H.; Ika Resmeiliana, S.Hut., M.Si.;
Dr. Tekad Urip P. S., S.Pt., M.Si.; Dr. Novia Amalia Sholeha, S.Si.; serta Nindya
Tri Muliawati, M.Sc. Kehadiran para dosen ini memperkuat pendampingan
teknis dan memastikan materi pelatihan dapat dipahami serta diaplikasikan
dengan baik oleh peserta.
Selain
dosen, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Prodi Analisis Kimia lainnya,
seperti Muhammad Galih, Siva Nabila, Khaerunnisa Fadillah, dan Muhammad
Afdhal Maliki Akbar, serta mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan
Mahasiswa Analisis Kimia (Aromatik). Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian
penting dalam mendukung kelancaran kegiatan sekaligus sebagai sarana
pembelajaran langsung untuk menerapkan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.
Melalui
pendekatan edukasi dan pendampingan langsung, kegiatan pengabdian ini tidak
hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir
petani terhadap pengelolaan hama yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan bahan
alami seperti daun sukun menunjukkan bahwa inovasi pertanian dapat berangkat
dari potensi lokal yang tersedia di sekitar masyarakat, sambil tetap
memprioritaskan aspek keselamatan dan efektivitas.
Kegiatan ditutup dengan pembagian bingkisan dan sesi foto bersama. Melalui pelatihan ini, Sekolah Vokasi IPB University menegaskan perannya dalam mendorong penerapan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat, sekaligus mendukung upaya pengembangan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.
.jpeg)