![]() |
| PAMILO menegaskan komitmennya mengawal target swasembada padi tahun 2026. (Foto: Dok/Ist). |
Dalam forum yang juga didampingi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Kabupaten Situbondo itu, PAMILO memaparkan roadmap percepatan produksi padi
yang berfokus pada tiga aspek utama: peningkatan produktivitas, mekanisasi
pertanian, dan regenerasi petani muda.
Ketua Petani Milenial Situbondo, Miskiyanto, menegaskan bahwa target 500
ribu ton bukan sekadar angka ambisius, melainkan target realistis jika
dikerjakan secara kolaboratif dan terukur.
“Target ini tidak bisa dicapai dengan pola lama. Kita harus berani melakukan lompatan. Produktivitas ditingkatkan, biaya produksi ditekan lewat mekanisasi, dan regenerasi petani harus berjalan sistematis,” ujar Miskiyanto.
Mekanisasi Jadi Kunci
Dalam paparannya, Petani Milenial Situbondo menekankan pentingnya
optimalisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti transplanter, traktor,
rotavator, hingga combine harvester. Penggunaan alsintan dinilai mampu
mempercepat proses tanam, mengurangi kehilangan hasil panen (losses), dan
meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Selain itu, peningkatan indeks pertanaman (IP), penggunaan benih unggul,
pemupukan berimbang, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)
secara terpadu juga masuk dalam strategi teknis percepatan produksi.
Menurut Miskiyanto, tanpa modernisasi dan efisiensi, pertanian akan sulit bersaing dan produktivitas berpotensi stagnan.
“Kita ingin pertanian Situbondo naik kelas. Tidak lagi identik dengan cara konvensional, tapi berbasis teknologi dan manajemen usaha tani yang profesional,” tegasnya.
Regenerasi Lewat Agriculture Bootcamp
Tak hanya bicara produksi, PAMILO juga menyoroti persoalan
regenerasi petani. Minimnya minat generasi muda di sektor pertanian dinilai
menjadi tantangan serius dalam jangka panjang.
Sebagai solusi, Petani Milenial Situbondo menggagas program Agriculture
Bootcamp, yakni pelatihan intensif berbasis praktik lapangan untuk mencetak
petani muda yang adaptif terhadap teknologi, memahami manajemen agribisnis, dan
memiliki orientasi pasar.
Bootcamp ini dirancang tidak hanya mengajarkan budidaya, tetapi juga
literasi keuangan, perencanaan usaha, hingga pemanfaatan digitalisasi
pertanian.
“Kalau produksi naik tapi tidak ada regenerasi, keberlanjutan akan rapuh. Karena itu kami fokus pada dua hal sekaligus: peningkatan produksi dan pencetakan petani muda,” jelas Miskiyanto.
Bupati Situbondo, Mas Rio, menyambut positif gagasan tersebut. Ia menilai
kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas petani muda menjadi kekuatan
baru dalam transformasi pertanian daerah.
“Swasembada 500 ribu ton ini bukan sekadar target angka. Ini komitmen
bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi seperti ini yang
kita butuhkan,” kata Mas Rio.
Ia menegaskan, Pemkab Situbondo siap memberikan dukungan kebijakan,
pendampingan teknis, serta penguatan sarana dan prasarana melalui dinas
terkait.
“Saya ingin pertanian Situbondo modern, efisien, dan menarik bagi generasi muda. Kalau anak muda mau turun ke sawah dengan pendekatan teknologi dan manajemen, itu masa depan yang harus kita dorong,” tegasnya.
Kolaboratif dan Inklusif
Forum di pendopo tersebut menjadi momentum konsolidasi menuju swasembada
2026. Petani Milenial Situbondo dan pemerintah daerah sepakat bahwa gerakan ini
harus kolaboratif dalam bergerak dan inklusif dalam berdampak.
Dengan sinergi antara pemerintah, dinas teknis, dan komunitas petani muda,
target 500 ribu ton dinilai bukan sekadar wacana. Situbondo kini menghadapi
tantangan besar untuk membuktikan bahwa swasembada pangan dapat diwujudkan
melalui inovasi, keberanian bertransformasi, dan semangat generasi baru petani.
