![]() |
| kelompok Kadewaguruan Sapta Arga sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Margi Sasmita Brata". (Foto: Dok/Ist). |
Jogjapekan, Yogyakarta - Dalam upaya merajut kembali tali sejarah dan memperdalam pemahaman spiritualitas Nusantara, kelompok Kadewaguruan Sapta Arga sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Margi Sasmita Brata". Kegiatan ini membawa para peserta mengunjungi lima situs bersejarah di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang masing-masing mewakili fragmen peradaban yang berbeda.
Perjalanan ini bukan sekadar wisata sejarah biasa, melainkan sebuah laku untuk membaca "sasmita" (isyarat alam dan sejarah) melalui peninggalan arkeologis yang membentang dari era prasejarah hingga kejayaan Majapahit akhir.
Menapaki Kejayaan Mataram Kuno (Medang)
Etape pertama membawa rombongan menyisir kemegahan arsitektur khas Medang di Jawa Tengah. Tiga candi terpilih menjadi representasi kejayaan Wangsa Syailendra dan Sanjaya:
- Candi Sambisari: Peserta diajak menyelami keunikan candi yang sempat terkubur lahar dingin Gunung Merapi ini. Letaknya yang berada di bawah permukaan tanah memberikan atmosfer spiritual yang mendalam.
- Candi Sari: Fokus pada detail relief dan bentuk bangunan bertingkat yang dulunya berfungsi sebagai asrama atau tempat meditasi para pendeta.
- Candi Kedulan: Situs yang masih dalam proses pemugaran ini menjadi bukti nyata ketangguhan bangunan leluhur menghadapi bencana alam di masa silam.
Menuju Titik Balik Majapahit dan Akar Prasejarah
Setelah menyisir era Mataram Kuno, rombongan bergerak menuju wilayah lereng Lawu untuk mengunjungi Situs Candi Menggung. Situs ini merupakan representasi penting dari era Majapahit akhir, di mana gaya arsitektur mulai bertransisi kembali ke bentuk punden berundak, mencerminkan perpaduan nilai Hindu-Buddha dengan kearifan lokal yang kuat.
Sebagai penutup yang fundamental, para peserta mengunjungi Situs Prasejarah Watu Kurung. Situs ini menjadi pengingat akan akar budaya megalitikum yang jauh lebih tua, di mana penghormatan terhadap alam dan energi semesta dilakukan melalui medium batu-batu alam yang sakral.
Makna di Balik Margi Sasmita Brata
Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pemilihan situs dengan ciri khas yang berbeda ini bertujuan agar peserta dapat melihat kesinambungan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dari zaman ke zaman.
"Melalui Margi Sasmita Brata, kami ingin belajar dari batu yang bicara. Dari era prasejarah hingga Majapahit, ada satu benang merah spiritualitas yang tidak pernah putus," ujarnya di sela-sela kunjungan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan generasi muda terhadap situs-situs bersejarah serta menjaga kelestarian kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
