
Nur Hamidah, Dosen STAI Al-Qudwah, Depok, dan Mohamad Dodi Bintoro, Mahasiswa Magister pada Institut Agama Islam (SEBI), Depok, Jurusan Akuntansi dan Tata Kelola Keuangan Syariah. (Foto: Dok/Ist).
Jogjapekan, Kolom - Di balik kokohnya pilar ekonomi yang
kita bangun saat ini, terdapat peran krusial para ekonom perempuan. Mereka
adalah "penjaga gerbang" integritas yang memastikan setiap rupiah
dana umat terkelola dengan transparan dan akuntabel. Peradaban yang tangguh
tidak pernah berdiri di atas satu kaki. Ia disokong oleh sinergi harmonis
antara laki-laki dan perempuan yang saling menguatkan dalam amal saleh. Dalam
peta besar pembangunan umat, perempuan memegang peran ganda yang strategis:
sebagai pendidik karakter di ruang domestik dan sebagai mitra penggerak ekonomi
di ruang publik.
Perempuan termasuk pahlawan ekonom
bangsa. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 64,5 persen
dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, dengan jumlah
perempuan wirausaha mencapai sekitar 37 juta orang. Dari jumlah tersebut,
kontribusi perempuan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 9,1
persen, bahkan sekitar 5 persen di antaranya telah menembus pasar ekspor[1]. .
Menempatkan perempuan sebagai mitra
strategis bukanlah sekedar sebuah tindakan 'memberi ruang', melainkan pengakuan
atas hakikat bahwa peradaban tidak akan pernah mencapai puncaknya jika separuh
dari kekuatannya terabaikan. Ketika seorang perempuan berdaya secara ekonomi,
satu keluarga terangkat dari kemiskinan; dan ketika seorang perempuan
tercerahkan secara pemikiran, sebuah generasi terselamatkan dari kegelapan. Mendukung
kemajuan perempuan adalah investasi paling logis yang bisa dilakukan umat untuk
menjemput masa depan yang lebih bermartabat.
Jejak Sejarah Dulu dan Kini:
Profesionalisme Perempuan dalam Ekonomi
Kiprah perempuan dalam pemberdayaan
ekonomi bukan konsep modern namun merupakan warisan sejarah. Sejarah Islam
mencatat keterlibatan aktif perempuan dalam membangun kekuatan finansial umat
dengan integritas tinggi: Sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA., seorang
teknokrat bisnis dan pengusaha skala bilateral yang mengelola kafilah dagang
besar antar negara dengan manajemen yang profesional. Ia membuktikan bahwa
kekayaan yang dikelola di tangan perempuan yang amanah adalah pilar utama
pendukung dakwah. Asy-Syifa binti Abdullah RA.: Seorang intelektual yang dipercaya
kepakaran dan kedalaman ilmunya oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. untuk
menjadi pejabat pengawas (Muhtasib) pasar-pasar di Madinah. Beliau adalah
simbol profesionalisme perempuan dalam menjaga keadilan dan regulasi ekonomi
publik.
Meneladani peran tokoh sejarah di
atas, sebuah contoh gerakan pemberdayaan perempuan salah satu ormas perempuan
muslimah (Salimah) di Indonesia, hadir membawa solusi nyata melalui Koperasi
Syari’ah Serba Usaha Salimah (Kossuma). Inisiatif ini bukan sekadar aktivitas
ekonomi, melainkan manifestasi nyata dari kemandirian umat. Jumlah Kossuma
Salimah terdaftar 124 unit di 22 provinsi beranggotakan 9.350 perempuan sebagai
anggota[2]. Kossuma hadir di tingkat
akar rumput sebagai motor penggerak ekonomi mikro. Dengan skema syariah, Kossuma
menjadi "benteng" bagi perempuan untuk mengembangkan usaha sekaligus
membebaskan keluarga dari jeratan riba. Ini adalah bukti bahwa ekonomi rumah
tangga bisa tumbuh subur di atas landasan keberkahan. Inkossuma (Induk Kossuma)
Salimah yang didirikan 9 Maret 2019: Berperan sebagai pusat konsolidasi dan
standardisasi profesionalisme. Kehadiran Inkossuma menunjukkan bahwa perempuan
memiliki kapasitas manajerial yang mumpuni dalam memimpin lembaga keuangan
berskala nasional secara amanah dan terorganisir karena peradaban yang kuat
membutuhkan manajemen yang profesional.
BAZNAS kota depok pernah berhasil
menjalin kerja sama dengan ormas perempuan dalam pendistribusian Zakat Cerdas
berupa pemberdayaan pengusaha perempuan melalui pemanfaatan dana zakat yang memiliki
tujuan merubah status dari mustahik menjadi muzakki. Walhasil agenda ini
berhasil menekan jumlah mustahik dengan bertambahnya 10% jumlah muzaki
direntang tahun 2020-2023[3].
Bersinergi Membangun Masa Depan
Semangat keteladanan yang dimiliki
ekonom perempuan hari ini mewarisi kecerdasan para sahabiyah terdahulu yang
mencatat peranan penting diberbagai bidang kehidupan termasuk sebagai pelaku
bisnis dan ekonomi di zamannya.
Menempatkan perempuan sebagai mitra
perekonomian dan peradaban adalah investasi paling logis bagi masa depan umat.
Keberhasilan Kossuma dan Inkossuma dan para ekonom serta pelaku bisnis
perempuan adalah pesan kuat bahwa ketika perempuan berdaya secara ekonomi, satu
keluarga akan terangkat dari kesulitan; dan ketika perempuan tercerahkan secara
spiritual, satu generasi akan terselamatkan dari kegelapan. Mari kita terus
memperkuat sinergi ini, memastikan setiap perempuan muslimah mampu menjadi
mitra strategis dalam menjemput kejayaan peradaban yang mulia.
[1] https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/meutya-hafid-umkm-perempuan-jadi-motor-ekonomi-digital-nasional
[2] https://www.salimah.or.id/about-2-2/
[3] Muzaiyanah,
Izza. Strategi Penyaluran Dana Zakat Infak Sedekah dalam Pemberdayaan
Ekonomi Masyarakat melalui Mitra Pd Salimah (Studi Kasus pada BAZNAS Kota
Depok). BS thesis. Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2024.