TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Menyalakan Semangat Pemimpin Muda Penggerak Perubahan

Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata semangat berbagi praktik
Ukuran huruf
Print 0

Kegiatan LDK SMP Kanisius Kalasan

Jogja Pekan, Yogyakarta - Semangat untuk menumbuhkan pemimpin muda yang reflektif, peduli, dan berani membawa perubahan nyata terasa kuat dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS yang diselenggarakan oleh SMP Kanisius Kalasan pada Sabtu, 14 Maret 2026. Mengusung tema “Pemimpin Penggerak Perubahan”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang tidak hanya menekankan keterampilan berorganisasi, tetapi juga pembentukan karakter, kedalaman refleksi diri, serta kesadaran akan makna kepemimpinan yang sejati.

Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata semangat berbagi praktik baik antar lembaga pendidikan sekaligus bagian dari komitmen bersama dalam menanggapi gerakan Keuskupan Agung Semarang melalui Sinode Pendidikan yang mendorong sekolah-sekolah Katolik untuk saling menguatkan dalam membentuk generasi muda yang berkarakter. 

Melalui program 3B (Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi) De Britto berupaya menghadirkan jejaring pendidikan yang hidup dalam semangat pendidikan Ignasian.

Dalam kegiatan ini, beberapa pendidik dari De Britto hadir sebagai narasumber sekaligus fasilitator, yakni Yoga Jati Kusuma, Carolus Boromeus Aditya Deddy Perdana, dan Christophorus Danang Wahyu Prasetio. 

Kehadiran mereka tidak hanya memberikan materi kepemimpinan, tetapi juga mendampingi proses dinamika peserta agar setiap pengalaman yang dijalani memiliki makna pembelajaran yang mendalam.

Suasana kegiatan juga semakin hidup dengan kehadiran dua alumni SMP Kanisius Kalasan yang kini menjadi murid kelas XI di SMA Kolese De Britto, yaitu Handito Permono dan Christophorus Febrian Tri Widagdo. Dito dan Febri, panggilan akrab mereka, berbagi kisah perjalanan kepemimpinan setelah lulus dari SMP sekaligus memberikan inspirasi kepada para peserta tentang bagaimana proses kepemimpinan terus bertumbuh dalam perjalanan pendidikan.

Menariknya, proses pembentukan kepemimpinan dalam kegiatan ini bahkan telah dimulai beberapa hari sebelumnya. Pada 11 Maret 2026 para peserta mengikuti Pra-LDK yang berisi pengantar mengenai pemimpin penggerak perubahan, pembagian kelompok, serta berbagai penugasan awal. 

Tahap ini bertujuan menyiapkan disposisi batin para peserta agar mereka tidak sekadar hadir mengikuti kegiatan, tetapi siap menjalani proses reflektif yang membantu mereka semakin mengenal diri. 

Dalam pengantar tersebut ditegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang sekadar memegang jabatan, melainkan pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.

Ketika hari pelaksanaan tiba, kegiatan dimulai dengan doa pembuka dan sambutan pimpinan sekolah yang menekankan pentingnya kepemimpinan yang melayani. Para peserta kemudian diajak memasuki sesi mengenal diri melalui pendekatan Jendela Johari. 

Dalam proses ini mereka belajar memahami berbagai sisi dalam diri; kekuatan, kelemahan, potensi, serta sisi yang selama ini mungkin belum disadari. Dari proses refleksi tersebut, para peserta menyadari bahwa kesadaran diri merupakan fondasi penting dalam kepemimpinan.

Kegiatan LDK SMP Kanisius Kalasan

Suasana kegiatan semakin dinamis ketika para peserta mengikuti sesi Wide Game, yaitu rangkaian permainan kolaboratif yang dirancang untuk menanamkan nilai kepemimpinan melalui pengalaman langsung. 

Dalam berbagai tantangan yang harus diselesaikan bersama, para peserta belajar tentang pentingnya kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan. Nilai-nilai karakter yang menjadi dasar pendidikan Kanisius (5K); keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan, hadir secara nyata dalam setiap dinamika permainan. 

Dari pengalaman tersebut para peserta belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah, melainkan kemampuan untuk berjalan bersama dan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang baik.

Kemampuan kepemimpinan juga diasah melalui sesi public speaking. Dalam sesi ini para peserta diajak berani menyampaikan gagasan di ruang terbuka melalui orasi mengenai nilai-nilai karakter yang diyakini berkaitan dengan 5K. 

Selain itu, mereka juga menampilkan teater mini yang menggambarkan berbagai situasi kehidupan di sekolah. Kegiatan ini menjadi ruang latihan bagi para peserta untuk mengungkapkan pemikiran secara jelas sekaligus melatih keberanian berbicara di depan orang lain.

Berbeda dari banyak pelatihan kepemimpinan yang hanya menekankan aspek teknis, LDK ini juga memberi ruang yang mendalam bagi spiritualitas dan refleksi diri. 

Para peserta mengikuti sesi Examen, sebuah metode refleksi yang berasal dari spiritualitas Ignatius Loyola. 

Dalam sesi ini para peserta diajak meninjau kembali pengalaman sepanjang hari, menemukan makna dari setiap peristiwa, serta menyadari bagaimana Tuhan hadir dalam pengalaman hidup mereka.

Proses refleksi ini dilanjutkan dengan metode Sharing Tiga Putaran, yaitu berbagi pengalaman dalam kelompok kecil. Melalui percakapan yang jujur dan saling mendengarkan, para peserta belajar menghargai pengalaman satu sama lain sekaligus menemukan pelajaran berharga dari perjalanan bersama.

Menjelang akhir kegiatan, para peserta diajak memasuki sesi kebermaknaan yang menjadi ruang untuk merangkum seluruh pengalaman yang telah dijalani. 

Melalui video refleksi dan sharing kelompok besar, banyak peserta menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah soal menjadi yang paling menonjol, melainkan keberanian untuk terus bertumbuh, bekerja sama, dan hadir bagi orang lain.

Kegiatan kemudian ditutup dengan ibadat syukur sebagai ungkapan terima kasih atas seluruh proses pembelajaran yang telah dilalui. Namun pengalaman kepemimpinan ini tidak berhenti pada satu hari kegiatan. 

Para peserta diminta menuliskan refleksi pribadi atas perjalanan sejak Pra-LDK hingga pelaksanaan kegiatan. Bahkan sebelum menuliskan refleksi tersebut, mereka diajak melakukan percakapan dengan orang tua untuk berbagi pengalaman dan makna yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, LDK OSIS di SMP Kanisius Kalasan menjadi lebih dari sekadar pelatihan organisasi. Ia menjadi proses pembentukan diri, tempat para peserta belajar mengenal diri, bekerja sama, berani bersuara, serta menemukan makna kepemimpinan yang sejati. 

Dengan semangat ini, para peserta diharapkan tumbuh menjadi pemimpin muda penggerak perubahan, pribadi yang tidak hanya memiliki kemampuan memimpin, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjadi man for others, manusia yang hidup untuk membawa kebaikan bagi sesame.

Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M
(Fasilitator LDK Sekaligus Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta)

 Menyalakan Semangat Pemimpin Muda Penggerak Perubahan
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin