TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Analisis Naratif Misi ‘No Russian’ dalam Call of Duty: Modern Warfare 2 dalam Perspektif Nilai Pancasila

Ukuran huruf
Print 0


Penulis: 
Zalfa Deizrantio Hamboro, Teknik Elektronika, Universitas Negeri Yogyakarta.

Jogja Pekan, Opini - Misi “No Russian” dalam Call of Duty: Modern Warfare 2 memang bukan sekadar konten hiburan, tetapi juga dapat dibaca sebagai bentuk narasi ideologis yang problematik jika dilihat dari perspektif nilai-nilai Pancasila.

Secara konseptual, misi ini menghadirkan skenario false flag terrorism yang dilakukan oleh tokoh antagonis Vladimir Makarov, dengan tujuan memicu konflik global dan menyudutkan Amerika Serikat. Namun, dalam praktik naratifnya, game ini justru membangun citra Rusia sebagai wilayah yang identik dengan kekacauan, ekstremisme, dan manipulasi politik tingkat tinggi. Di sinilah muncul indikasi propaganda halus, karena representasi tersebut tidak netral, melainkan cenderung memperkuat stereotip geopolitik tertentu.

Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, terdapat beberapa kontradiksi mendasar:

1. Sila kemanusiaan yang adil dan berada

Misi ini secara eksplisit mendorong pemain untuk terlibat dalam kekerasan terhadap warga sipil tak bersenjata. Walaupun secara teknis pemain bisa memilih untuk tidak menembak, desain misi tetap menempatkan kekerasan sebagai inti pengalaman. Hal ini bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, karena mengaburkan batas moral antara pelaku dan korban.

2. Sila persatuan Indonesia (dan semangat anti-disintegrasi global)

Narasi yang membangun konflik berbasis manipulasi identitas (menyamar sebagai pihak lain untuk memicu perang) justru menormalisasi logika adu domba. Ini berlawanan dengan semangat persatuan dan perdamaian yang dijunjung dalam Pancasila.

3. Sila keadilan sosial dan kebenaran 

Konsep “mengambinghitamkan” pihak tertentu—dalam hal ini Rusia sebagai latar tragedi sekaligus objek framing—menunjukkan bagaimana kebenaran dapat direkayasa dalam narasi politik. Ini problematik karena mengajarkan bahwa manipulasi informasi adalah alat yang sah untuk mencapai tujuan strategis.

Lebih jauh, jika dianalisis secara kritis, misi ini tidak hanya soal “menyudutkan Rusia”, tetapi juga bagian dari narasi besar industri hiburan Barat yang sering menggambarkan konflik global dalam kerangka “kita vs mereka”. Rusia dalam konteks ini menjadi simbol antagonis klasik, bukan representasi yang seimbang. Hal ini berpotensi membentuk persepsi pemain—terutama yang tidak memiliki literasi geopolitik—bahwa konflik dunia bersifat hitam-putih, padahal realitas jauh lebih kompleks.

Kesimpulannya, “No Russian” bisa dilihat sebagai contoh bagaimana video game dapat mengandung muatan ideologis yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam hal kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian. Misi ini bukan sekadar kontroversial karena kekerasannya, tetapi juga karena cara ia membingkai realitas politik secara simplistik dan cenderung bias.

Analisis Naratif Misi ‘No Russian’ dalam Call of Duty: Modern Warfare 2 dalam Perspektif Nilai Pancasila
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin