TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

8 Juta Orang Berutang Demi Tidak Ketinggalan Tren: Ada yang Salah dengan Cara Kita Mencari Kepuasan

Ukuran huruf
Print 0

Notifikasi Promo Picu Belanja Impulsif (Sumber: RRI.co.id)

Oleh:
Balqis Salsabila Putri, Linda Stevani, dan Susilawati, Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang.

Jogja Pekan, Opini - Jumat lalu, di Universitas Islam Bandung, ratusan mahasiswa dan pelajar Jawa Barat duduk mendengarkan sesuatu yang seharusnya tidak mengejutkan — tapi ternyata tetap mengejutkan. Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, mengungkap bahwa pengguna pinjaman daring di Indonesia kini hampir mencapai 8 juta orang. Sebagian besar dari mereka bukan meminjam untuk modal usaha atau kebutuhan mendesak. Mereka meminjam demi gaya hidup. Demi tidak ketinggalan tren. Demi FOMO.

Dan Jawa Barat bukan sekadar penonton. Data PT Pefindo Biro Kredit menunjukkan bahwa mayoritas pengguna paylater di Indonesia berasal dari Jawa Barat. Provinsi ini, dengan Bandung sebagai pusatnya, adalah salah satu episentrum terbesar dari fenomena konsumsi impulsif yang sedang menggerogoti keuangan generasi muda.

Ada yang salah. Dan jawabannya sudah ada dalam buku ekonomi sejak abad ke-19.

Hukum yang Tidak Pernah Salah — Tapi Selalu Dilanggar

Lebih dari 150 tahun lalu, ekonom Jerman Hermann Heinrich Gossen merumuskan sesuatu yang kini dikenal sebagai Hukum Nilai Guna Marjinal yang Semakin Menurun. Intinya: semakin sering kamu mengonsumsi sesuatu, kepuasan tambahan yang kamu rasakan dari setiap unit berikutnya akan terus menyusut — sampai akhirnya menjadi nol, bahkan membebani.

Tidak perlu rumus untuk memahaminya. Bayangkan kamu baru saja membeli outfit baru yang sedang viral. Pertama kali dipakai, rasanya luar biasa. Kedua kali, masih senang. Ketiga kali, sudah biasa. Sebulan kemudian, tergeletak di sudut lemari bersama outfit-outfit “wajib punya” lainnya yang nasibnya sama.

Kepuasan itu nyata — tapi ia tidak bertahan lama. Dan justru di sinilah masalahnya: FOMO tidak memberi kita waktu untuk merasakan kepuasan itu sampai habis sebelum mendorong kita membeli yang berikutnya.

Bandung, Viral, dan Mesin Kepuasan yang Tidak Pernah Penuh

Bandung adalah kota dengan ekosistem tren yang berputar sangat cepat. Kafe baru bermunculan setiap minggu. Outfit hits berganti setiap bulan. Event lifestyle silih berganti mengisi kalender anak muda. Dalam konteks seperti ini, FOMO bukan sekadar perasaan sesaat — ia adalah tekanan sosial yang dikondisikan secara sistematis oleh algoritma digital.

OJK Jawa Barat menyebutnya doom spending — kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif sebagai pelampiasan stres, yang dipicu oleh rasa takut tertinggal dari lingkungan sosial. Hasilnya bisa dilihat dari angka: per Maret 2026, kelompok usia 19–34 tahun mendominasi pendanaan macet pinjol dengan porsi hampir 49 persen secara nasional, sementara total utang pinjol masyarakat sudah menembus Rp101 triliun — naik 25,75 persen hanya dalam setahun.

Yang lebih mengejutkan: survei Jakpat menemukan bahwa 79 persen Gen Z mengaku yakin dengan kemampuan perencanaan keuangan mereka. Tapi di saat yang sama, mereka adalah kelompok yang paling banyak terjebak kredit macet. Mereka tahu teorinya — tapi tidak menerapkannya saat jari sudah di tombol beli.

Kamu Tidak Membeli Barang. Kamu Membeli Kepuasan yang Salah Alamat.

Di sinilah letak kesalahan yang paling jarang disadari.

Dalam teori ekonomi, manusia tidak sesungguhnya menginginkan barang — mereka menginginkan kepuasan yang diberikan oleh barang tersebut. Dan kepuasan itu punya hukumnya sendiri yang tidak bisa dimanipulasi oleh diskon flash sale atau komentar “keren banget!” di kolom Instagram.

Pemaksimuman kepuasan — tujuan sejati dari setiap keputusan konsumsi — bukan dicapai dengan membeli sebanyak-banyaknya. Ia dicapai ketika setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan tambahan kepuasan yang paling besar dibanding pilihan lainnya. Artinya, uang Rp300.000 untuk nongkrong di kafe hits yang sudah keempat kalinya bulan ini mungkin memberikan kepuasan yang jauh lebih kecil dibanding Rp300.000 yang masuk ke tabungan atau dipakai untuk pengalaman yang benar-benar baru.

Masalahnya, FOMO secara sistematis mengacaukan kalkulasi ini. Ia membuat kita merasa bahwa tidak ikut tren adalah kerugian — padahal yang sesungguhnya terjadi adalah sebaliknya: membeli demi tren, saat nilai kepuasannya sudah mendekati nol, itulah kerugian yang nyata.

Ada Paradoks yang Perlu Dibicarakan

Gen Z di Jawa Barat menghadapi paradoks yang menarik: mereka adalah generasi yang paling melek teknologi, paling mudah mengakses informasi keuangan, dan — berdasarkan survei — paling percaya diri soal perencanaan keuangan. Tapi data pinjol dan paylater bercerita sebaliknya.

Ini bukan soal bodoh atau pintar. Ini soal bagaimana lingkungan digital dirancang untuk mengeksploitasi celah antara yang kita tahu dan yang kita lakukan. Platform media sosial dan e-commerce dibangun di atas satu prinsip: membuat kita merasa bahwa kepuasan selalu ada di pembelian berikutnya. Padahal hukum ekonomi sudah membuktikan sejak lama bahwa pembelian berikutnya hampir selalu memberikan kepuasan yang lebih kecil dari sebelumnya.

Dan ketika pembelian itu dilakukan dengan paylater atau pinjol, kepuasannya datang hari ini — tapi biayanya dibayar berbulan-bulan ke depan, lengkap dengan bunga yang menggerogoti.

Yang Mulai Berubah di Jawa Barat

Di tengah arus yang deras, ada sinyal yang menarik.

Tren loud budgeting — di mana anak muda secara terbuka menolak pengeluaran impulsif dan dengan bangga menyuarakan tujuan keuangan jangka panjang mereka — mulai mendapat perhatian serius di Jawa Barat. Pegadaian Kanwil X Jawa Barat menyebutnya sebagai momentum perubahan perilaku finansial yang sehat. Seorang karyawan BUMN asal Bandung bahkan mengaku kini lebih berani menolak ajakan nongkrong mahal demi menabung emas untuk uang muka rumah.

Ini adalah bentuk pemaksimuman kepuasan yang sesungguhnya — bukan memaksimumkan frekuensi konsumsi sesaat, tapi mengalihkan sumber daya ke hal-hal yang memberikan nilai guna lebih besar dan lebih tahan lama. Kepuasan yang tidak perlu di-screenshot untuk terasa nyata.

Tiga Pertanyaan Sebelum Kamu Impulsif Lagi

Apakah ini kepuasan nyata atau sekadar pelarian dari rasa takut ketinggalan? FOMO dan kepuasan adalah dua hal yang berbeda. Membeli karena takut ketinggalan adalah respons terhadap kecemasan, bukan terhadap kebutuhan. Dan kecemasan tidak pernah sembuh dengan pembelian — ia hanya mencari objek berikutnya.

Apakah kepuasan yang akan saya dapat masih tinggi, atau sudah mendekati nol? Kalau kamu sudah punya lima item serupa di lemari, yang keenam hampir pasti memberikan kepuasan yang jauh lebih kecil. Itu bukan investasi kepuasan — itu pemborosan.

Apa yang bisa saya lakukan dengan uang yang sama untuk kepuasan yang lebih besar dan lebih tahan lama? Uang yang habis untuk pengeluaran impulsif hari ini adalah uang yang tidak bisa tumbuh — tidak bisa jadi tabungan, tidak bisa jadi modal, tidak bisa jadi fondasi finansial yang akan kamu butuhkan lima tahun lagi.

Penutup

Kepuasan yang sesungguhnya tidak dijual di flash sale. Ia tidak datang dari seberapa banyak yang kita beli — tapi dari seberapa tepat kita memilih di mana uang, waktu, dan energi kita ditempatkan.

Jawa Barat, dengan mayoritas pengguna paylater terbesar di Indonesia dan ratusan ribu anak mudanya yang terjerat konsumsi impulsif, punya kesempatan untuk membuktikan bahwa generasi yang paling melek teknologi juga bisa menjadi generasi yang paling cerdas secara finansial.

Hukum Gossen tidak bisa dibohongi oleh algoritma. Kepuasan tambahan dari pembelian berikutnya akan selalu lebih kecil dari sebelumnya — sampai akhirnya tidak memberikan apa-apa selain tagihan.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah ini lagi tren?” — tapi “apakah ini benar-benar membuat saya lebih puas?” Jawab dengan jujur. Dompetmu akan berterima kasih.

8 Juta Orang Berutang Demi Tidak Ketinggalan Tren: Ada yang Salah dengan Cara Kita Mencari Kepuasan
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin