![]() |
| Bupati Paramitha Peragakan Batik Salem Brebes di Panggung Jogja Fashion Week 2026. Sumber: jateng.disway.id |
Jogja Pekan, Brebes - Karya seni warisan warga Salem, Kabupaten Brebes, yakni Batik Salem, sukses unjuk gigi dalam ajang bergengsi Jogja Fashion Week (JFW) 2026. Penampilan kain khas Brebes ini menjadi sarana taktis untuk mempromosikan kekayaan seni daerah ke ruang pasar busana yang lebih luas.
Pagelaran yang dilangsungkan pada 15 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC) merupakan bagian dari perhelatan JFW 2026 yang dihelat pada 13–16 Agustus 2026. Pada edisi ke-21 ini, JFW menampilkan lebih dari 150 perancang busana beserta talenta muda dalam beragam pertunjukan busana dan pameran industri kreatif.
Keikutsertaan Batik Salem dalam helatan tersebut didorong oleh Dekranasda DIY, sekaligus memberikan kesempatan bagi karya batik daerah untuk bersanding dengan ranah seni busana dari pelbagai wilayah. Dalam ajang promosi tersebut, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma bersama sang suami, Saeful Ansori, turut berjalan di atas pentas memperagakan busana bermotif Batik Salem.
Kepala Dinbudpar Kabupaten Brebes, Fajar Adi Widiarso, menyampaikan bahwa partisipasi Batik Salem tak sebatas partisipasi peragaan di atas panggung semata, melainkan pijakan untuk mengangkat identitas serta kreasi masyarakat Salem ke arena yang lebih luas.
“Batik Salem bukan sekadar kain, tetapi karya budaya yang menyimpan cerita, identitas, dan kreativitas masyarakat. Kehadirannya dalam ajang Fashion Week menjadi langkah penting untuk membawa keindahan batik khas Salem naik ke panggung yang lebih luas,” kata Fajar Adi Widiarso, Minggu (16/08/26) siang.
Fajar menilai batik daerah berpotensi besar tumbuh menjadi bagian penting dari industri busana kontemporer. Lewat penyegaran desain yang mengikuti tren tanpa membuang nilai tradisi, Batik Salem diyakini sanggup bersaing hingga tingkat nasional maupun mancanegara.
“Kami ingin membuktikan bahwa batik daerah memiliki kualitas, karakter, dan daya tarik yang mampu bersanding dengan karya fashion dunia. Dengan sentuhan desain yang modern tanpa meninggalkan akar tradisinya, Batik Salem siap melangkah dari Salem untuk Indonesia, dan dari Indonesia menuju dunia,” jelas Fajar Adi.
Penyajian Batik Salem di JFW 2026 kian memikat lewat kolaborasi bersama perancang ternama Defrico Audy. Sinergi ini diharapkan menghadirkan sudut pandang anyar dalam mengembangkan Batik Salem agar makin fleksibel menghadapi tuntutan dunia fashion.
"Bagi Brebes, momentum ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya. Batik tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pasar," ungkap Fajar Adi.
Ke depan, fokus perhatian akan diarahkan pada peningkatkan keahlian para pengrajin serta desainer lokal Brebes. Salah satunya melalui penyelenggaraan pelatihan perancang busana agar batik khas Brebes makin modern dan berdaya saing.
“Fashion Week bukan hanya tentang tampil di atas panggung, tetapi tentang membuka pintu bagi batik Salem untuk dikenal, diapresiasi, dan menjadi bagian dari tren fashion global,” tegas Fajar Adi.
Melalui panggung Jogja Fashion Week 2026, kisah kebudayaan, keahlian, dan jati diri masyarakat Salem kini disajikan ke khalayak yang lebih luas.
"Saat ini batik Salem tidak lagi hanya berbicara tentang warisan masa lalu, tetapi juga tentang masa depan industri fashion Brebes. Dari Salem untuk Indonesia, dan Brebes Beres," pungkasnya.
