TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Pameran Tunggal Dhewantara Bertajuk “Diri dan Liyan”: Ketika Identitas Terus Bergerak dalam Perjumpaan

Ukuran huruf
Print 0
Dari kiri EdoPop, Dhewantara, Neni Maria di Pembukaan Pameran Diri dan Liyan

Yogyakarta — Pertanyaan tentang siapa diri kita dan siapa yang kita sebut sebagai “yang lain” menjadi pintu masuk dalam pameran tunggal “Diri dan Liyan” karya Dhewantara Manurung, yang dibuka pada Jumat, 11 September 2026. Pameran ini menjadi penanda penting dalam perjalanan kreatif Dhewantara, sekaligus ruang bagi dirinya untuk membaca kembali identitas, ingatan, perpindahan, serta hubungan manusia dengan lingkungan yang membentuknya.

Pembukaan pameran berlangsung dengan melibatkan sejumlah kolaborator dan pelaku seni. Acara tersebut diresmikan oleh Ucok Hutabarat dengan menghadirkan kolaborasi Gondang Hasapi “KSBJ” dan Marsianjuan Dancer. Sejumlah penampil turut meramaikan pembukaan, di antaranya @kebunkecil, @andre saragih, @sahata project, @betrand_zai, @rescondino ffffler, @hendrikpangkale, dan @echokena.

Pameran ini dikuratori oleh Dr. Moh. Rusnoto Susanto, S.Pd, M.Sn, MCE. dengan tulisan pendamping oleh Tiang Senja dan Cholsverde. “Diri dan Liyan” berlangsung hingga 19 September 2026 di Bale Black Box Sewon Bantul.

Lebih dari sekadar memamerkan karya, pameran ini memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup seorang seniman dapat menjadi medan untuk mempertanyakan kembali identitas. Dhewantara tumbuh melalui perpindahan dari Binjai, Medan, Bandung, hingga akhirnya menetap di Yogyakarta. Perpindahan tersebut tidak hanya mengubah tempat tinggal, tetapi juga membawa perubahan dalam cara ia memahami rumah, keluarga, asal-usul, dan dirinya sendiri.

Dalam perjalanan tersebut, rumah perlahan kehilangan pengertiannya sebagai sekadar sebuah bangunan atau alamat. Rumah dapat hadir melalui orang-orang, bahasa, ingatan, makanan, nama keluarga, maupun tempat yang menyimpan sejarah. Dalam pengalaman Dhewantara, sebuah makam leluhur bermarga Manurung di kampung halaman menjadi salah satu titik yang tetap diam ketika hampir seluruh kehidupannya bergerak. Tempat itu menjadi semacam koordinat untuk kembali mempertanyakan dari mana dirinya bermula.

Dari pengalaman itulah istilah “liyan” memperoleh makna yang lebih luas. Liyan bukan semata-mata seseorang yang asing atau berada di luar diri. Ia dapat berupa keluarga, kampung halaman, leluhur, masyarakat baru, bahkan bagian dari diri sendiri yang berasal dari masa lalu. Diri, dengan demikian, tidak pernah benar-benar berdiri sendirian. Ia terbentuk melalui perjumpaan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.

Yogyakarta kemudian menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut. Ketika tiba di kota ini, Dhewantara berhadapan dengan lingkungan sosial dan ekosistem kebudayaan yang baru. Dunia seni, komunitas, pertemanan, musik, diskusi, dan praktik seni rupa menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan pengalaman masa lalu dibaca kembali dari sudut pandang yang berbeda.

Menariknya, jejak identitas kultural juga muncul dalam bahasa visual karya-karya Dhewantara. Figur-figur dengan karakter anak laki-laki yang hadir dalam berbagai rupa dan kostum memiliki kemiripan dengan sejumlah entitas visual dalam kebudayaan Batak, seperti Sigale-gale dan topeng-topeng Batak. Kemiripan tersebut membuka kemungkinan pembacaan mengenai bagaimana ingatan kultural bekerja dalam praktik visual sang seniman.

Salah satu hal yang mencolok dari figur-figur tersebut adalah mata mereka yang besar. Mata itu seakan tidak hanya menjadi objek yang dilihat, tetapi juga menghadirkan tatapan balik kepada pengunjung. Di sana muncul pertanyaan yang lebih dalam: ketika seseorang melihat wajah yang lain, mungkinkah yang sebenarnya sedang ia lihat adalah bagian dari dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut membuat “Diri dan Liyan” bergerak melampaui persoalan identitas personal Dhewantara. Pengalaman yang berangkat dari keluarga, leluhur, kampung halaman, perpindahan kota, dan kehidupan urban dapat dibaca sebagai pengalaman banyak manusia hari ini mereka yang meninggalkan tempat asal, membangun kehidupan baru, tetapi tetap membawa sesuatu dari rumah yang pernah ditinggalkan.

Dalam konteks itu, “liyan” justru tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dijauhi. Ia dapat menjadi ruang untuk membangun rumah baru. Pertemanan, komunitas, percakapan, dan peristiwa seni dapat menciptakan rasa memiliki yang baru. Dhewantara seperti memperlihatkan bahwa manusia dapat menemukan dirinya justru melalui apa yang pada awalnya berada di luar dirinya.

Pameran ini pada akhirnya tidak menawarkan jawaban tunggal mengenai siapa Dhewantara. Sebaliknya, karya-karyanya mempertahankan pertanyaan tersebut agar tetap terbuka. Diri bukan sesuatu yang selesai dibentuk, melainkan sesuatu yang terus bergerak bersama pengalaman, ingatan, kehilangan, perjumpaan, dan perubahan.

Dari Binjai hingga Yogyakarta, perjalanan Dhewantara dapat dibaca sebagai perjalanan antara pergi dan pulang; antara apa yang diwariskan dan apa yang ditemukan; antara rumah yang ditinggalkan dan rumah baru yang dibangun melalui perjumpaan. Di satu titik terdapat makam leluhur yang tetap diam, sementara dirinya terus bergerak.

Di situlah seni dalam “Diri dan Liyan” menemukan posisinya: sebagai ruang tempat masa lalu dan masa kini saling berhadapan, tempat asal-usul bertemu dengan pengalaman baru, dan tempat seseorang dapat melihat dirinya melalui keberadaan yang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia mungkin memang tidak pernah benar-benar selesai menjadi dirinya sendiri.

Pameran “Diri dan Liyan” karya Dhewantara Hardyk Manurung berlangsung pada 11–19 September 2026.

Pameran Tunggal Dhewantara Bertajuk “Diri dan Liyan”: Ketika Identitas Terus Bergerak dalam Perjumpaan
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin