TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

5 Permainan Tradisional Indonesia yang Bisa Diterapkan dalam Pembelajaran di Kelas

Temukan 5 permainan tradisional Indonesia yang bisa langsung diterapkan di kelas. Dari congklak untuk matematika sampai gobak sodor untuk kerjasama.
Ukuran huruf
Print 0
Permainan Tradisional Indonesia

Jogjapekan, Game - Pernahkah Anda teringat masa kecil saat bermain congklak, engklek, atau gobak sodor di halaman sekolah? Waktu itu kita berlari, tertawa, dan kadang menangis bareng teman tanpa memikirkan gadget. Dunia terasa ringan dan penuh kebersamaan.

Sekarang anak-anak lebih sering asyik dengan game online. Padahal permainan tradisional Indonesia penuh nilai kerjasama, strategi, dan karakter yang sangat dibutuhkan di sekolah. Nilai-nilai itu justru semakin langka di era digital.

Artikel ini akan membahas lima permainan tradisional yang bisa langsung Anda terapkan sebagai media pembelajaran. Mulai dari cara main, manfaatnya, sampai langkah praktis di kelas. Semua mudah, murah, dan menyenangkan.

Kenapa Permainan Tradisional Cocok untuk Pembelajaran?

Permainan tradisional hampir selalu dimainkan bersama. Anak belajar kerjasama, sportivitas, dan kesabaran secara alami. Berbeda dengan game online yang sering individual.

Guru bisa memanfaatkan permainan ini untuk memperkuat materi pelajaran. Selain itu, siswa ikut mengenal warisan budaya sendiri. Hasilnya, pembelajaran jadi lebih hidup dan mudah diingat.

Yang penting, aturan main bisa dimodifikasi. Tidak harus persis seperti dulu. Yang utama adalah nilai edukasinya tetap tersampaikan.

1. Congklak untuk Matematika (KPK dan FPB)

Congklak atau dakon adalah permainan papan dengan lubang dan biji-bijian. Pemain mengambil biji dari lubang sendiri lalu mengisi lubang satu per satu sampai habis.

Permainan ini melatih strategi, ketelitian, dan kesabaran. Cocok banget untuk mengajarkan konsep bilangan, terutama KPK dan FPB.

Cara praktis di kelas:  

Beri nomor setiap lubang congklak (1, 2, 3, dan seterusnya). Siapkan biji dua warna, misalnya hijau dan biru. Untuk mencari KPK 2 dan 3, letakkan biji hijau di kelipatan 2 (2, 4, 6, 8…) dan biji biru di kelipatan 3 (3, 6, 9…). Lubang yang berisi dua biji adalah kelipatan persekutuan. Yang terkecil itulah KPK.  

Untuk FPB, masukkan biji sesuai faktor bilangan. Lubang yang berisi dua biji menunjukkan faktor persekutuan, lalu pilih yang terbesar. Siswa langsung melihat konsepnya secara konkret.

2. Engklek untuk Mengingat dan Menghafal Konsep

Engklek (atau gedrik, tepok gunung, dan lain-lain) dimainkan dengan melompat satu kaki di petak-petak yang digambar di tanah. Pemain melempar gaco dan harus mengambilnya sambil melompat tanpa keluar batas.

Permainan ini bisa dipakai di hampir semua mata pelajaran. Cukup letakkan kartu soal di setiap petak. Siswa yang mendarat di petak harus menjawab soal tersebut. Salah jawab? Gugur dan diganti teman.

Unsur tantangan membuat siswa lebih fokus dan semangat menjawab. Mereka belajar sambil bergerak, sehingga daya ingat meningkat.

3. Petak Umpet untuk Bahasa dan Pengetahuan Umum

Petak umpet sudah sangat familiar. Satu orang jadi “kucing”, yang lain bersembunyi. Yang menemukan harus menyebutkan nama teman yang ketemu.

Dalam pembelajaran, ganti hitungan “kucing” dengan bahasa asing yang sedang dipelajari. Atau ganti nama siswa yang bersembunyi dengan istilah materi. Misalnya saat belajar organ pernapasan, sebut trakhea, bronkus, alveolus. Saat sejarah, sebut nama tokoh pergerakan nasional.

Siswa belajar menghafal istilah sambil bermain. Mereka juga dilatih kesetiakawanan dan ketelitian.

4. Gobak Sodor untuk Pendidikan Karakter dan Kerjasama

Gobak sodor membutuhkan dua tim: tim jaga dan tim laku. Tim jaga menghadang agar lawan tidak bisa melewati garis bolak-balik. Semua anggota tim harus berhasil melewati untuk menang.

Permainan ini sangat pas untuk materi kerjasama di PKn atau pendidikan karakter. Biarkan siswa berdiskusi sendiri menentukan formasi, memilih ketua, dan menyusun strategi.

Mereka langsung merasakan pentingnya komunikasi, tanggung jawab, dan kekompakan. Nilai-nilai itu sulit diajarkan hanya lewat ceramah.

5. Gasing untuk Konsep Pengukuran Waktu

Gasing diputar secara bersamaan. Siapa yang paling lama berputar, dia menang. Sederhana, tapi bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.

Untuk siswa kelas rendah, minta mereka memutar gasing bergantian lalu mencatat lama putaran. Kemudian putar dua gasing sekaligus dan bandingkan. Tanyakan faktor apa yang memengaruhi lama putaran (kekuatan putaran, angin, permukaan lantai).

Siswa belajar konsep waktu secara nyata. Mereka juga mulai berpikir kritis tentang faktor-faktor yang memengaruhi pengukuran.

Tips Praktis Menerapkan di Kelas

Mulai dari satu permainan dulu. Pilih yang paling sesuai dengan materi minggu ini. Siapkan alat sederhana, misalnya kapur untuk engklek atau biji-bijian untuk congklak.

Libatkan siswa dalam membuat aturan. Mereka akan lebih merasa memiliki permainan. Setelah bermain, lakukan refleksi singkat: “Apa yang kalian pelajari hari ini?”

Lakukan secara rutin, misalnya satu kali seminggu. Seiring waktu, siswa akan terbiasa dan bahkan meminta sendiri.

Kesimpulan

Lima permainan tradisional di atas yang di antaranya congklak, engklek, petak umpet, gobak sodor, dan gasing bukan sekadar hiburan. Mereka adalah media pembelajaran yang murah, menyenangkan, dan penuh nilai karakter.

Dengan sedikit kreativitas, guru bisa membuat siswa lebih aktif, lebih paham materi, sekaligus ikut melestarikan budaya Indonesia. Jangan biarkan permainan warisan nenek moyang hanya menjadi cerita. Mari hidupkan kembali di kelas kita.

5 Permainan Tradisional Indonesia yang Bisa Diterapkan dalam Pembelajaran di Kelas
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin