Bandung, 2026 – Kenaikan biaya admin marketplace yang mulai berlaku di awal tahun 2026 menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha online di Indonesia. Tidak hanya itu, berbagai komponen biaya tambahan seperti layanan promo, gratis ongkir, hingga biaya retur yang semakin kompleks, turut menekan margin keuntungan seller.
Berdasarkan pembaruan kebijakan terbaru, biaya admin marketplace seperti Shopee kini mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh 10% untuk kategori tertentu, meningkat dari kisaran sebelumnya 2,5%–7,5%.
Tidak berhenti di situ, seller juga harus menanggung berbagai biaya tambahan, seperti:
- Biaya layanan program (hingga 4–4,5%)
- Biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi
- Biaya tambahan pre-order sekitar 3%
Jika digabungkan, total potongan yang diterima seller bahkan bisa mencapai 11% hingga 18% per transaksi, tergantung program yang diikuti.
Fenomena Baru: Omzet Naik, Profit Justru Turun
Fenomena yang kini banyak terjadi di kalangan seller adalah peningkatan omzet yang tidak diikuti dengan peningkatan profit. Dalam praktiknya, seller sering kali:
- Mengikuti hampir semua program promo marketplace
- Memberikan subsidi diskon tambahan
- Menanggung biaya retur atau komplain pembeli
Akibatnya, meskipun traffic dan transaksi meningkat, keuntungan bersih justru semakin tipis.
“Marketplace hari ini bukan lagi sekadar tempat jualan, tapi sistem biaya yang kompleks. Kalau tidak dihitung dengan benar, seller bisa terlihat ‘ramai’ tapi sebenarnya rugi,” ujar Raynaldy, Owner TBD Agency.
Biaya Retur & Operasional Tersembunyi Jadi Beban Baru
Selain biaya admin, isu lain yang mulai banyak dikeluhkan adalah biaya retur dan operasional tambahan yang sering kali dibebankan kepada seller. Dalam banyak kasus:
- Ongkir retur tidak sepenuhnya ditanggung platform
- Produk rusak atau tidak bisa dijual ulang menjadi kerugian langsung
- Biaya handling dan operasional meningkat
Hal ini membuat seller harus memperhitungkan struktur biaya (cost structure) yang jauh lebih kompleks, bukan hanya harga jual dan biaya produksi.
Marketplace Tetap Penting, Tapi Tidak Bisa Jadi Satu-satunya Channel
Meski biaya meningkat, marketplace masih menjadi kanal utama untuk mendapatkan traffic dan membangun kepercayaan konsumen. Namun, para pelaku bisnis mulai menyadari bahwa:
- Marketplace lebih cocok sebagai channel akuisisi
- Bukan satu-satunya sumber profit
- Harus dikombinasikan dengan strategi konten, branding, dan distribusi lain
“Kesalahan terbesar seller adalah bergantung 100% ke marketplace. Padahal, di 2026, yang menang adalah brand yang punya kontrol traffic sendiri,” jelas Raynaldy.
Peran Strategi Digital Marketing Jadi Kunci
Melihat kondisi ini, banyak brand mulai beralih ke strategi yang lebih terintegrasi, seperti:
- Meningkatkan konversi dari konten (bukan hanya ads)
- Mengoptimalkan live shopping sebagai channel penjualan langsung
- Mengurangi ketergantungan pada promo marketplace
Di sinilah peran digital marketing agency menjadi semakin krusial.
TBD Agency Hadir sebagai Solusi untuk Seller & Brand
Sebagai digital marketing agency yang berbasis di Bandung sejak 2022, TBD Agency hadir membantu brand menghadapi perubahan ekosistem marketplace ini.
TBD Agency memiliki tiga fokus utama layanan:
1. Ads Performance (Profit-Oriented)
Tidak hanya meningkatkan traffic, tetapi memastikan iklan menghasilkan profit. Bahkan, TBD Agency telah membantu banyak UMKM menembus omzet Rp1 miliar pertama.
2. Content That Converts
Konten tidak hanya viral, tetapi dirancang untuk menghasilkan penjualan nyata, mulai dari konsep hingga produksi end-to-end.
3. Live Commerce Ecosystem
Dengan lebih dari 15–20 studio live berstandar tinggi dan talent tersertifikasi TikTok, TBD Agency membantu brand memaksimalkan penjualan tanpa bergantung penuh pada marketplace.
Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Biaya
Menurut Raynaldy, ada beberapa strategi yang harus mulai diterapkan oleh seller di 2026:
“Seller harus mulai berpikir seperti brand, bukan sekadar pedagang. Fokusnya bukan hanya jualan, tapi membangun sistem yang sustainable.”
Beberapa strategi yang direkomendasikan:
- Menghitung ulang pricing dengan mempertimbangkan semua biaya
- Tidak mengikuti semua program promo marketplace
- Mengembangkan channel di luar marketplace (TikTok, Instagram, website)
- Menggunakan live selling untuk meningkatkan margin langsung
Kesimpulan: Era Baru Jualan Online Sudah Dimulai
Kenaikan biaya admin marketplace dan kompleksitas biaya lainnya menjadi tanda bahwa industri e-commerce Indonesia telah memasuki fase baru.
Seller yang tidak beradaptasi berisiko:
- Kehilangan margin
- Terjebak perang harga
- Bergantung penuh pada platform
Sebaliknya, brand yang mampu mengelola strategi secara menyeluruh justru memiliki peluang untuk tumbuh lebih besar.
“2026 bukan lagi soal siapa yang paling murah, tapi siapa yang paling cerdas mengelola channel dan margin,” tutup Raynaldy.
