Jogja Pekan, Bandung, 2026 – Fenomena penurunan omzet setelah periode Idul Fitri atau Lebaran kembali dirasakan oleh banyak pelaku usaha di Indonesia. Setelah lonjakan penjualan selama Ramadan dan puncaknya menjelang hari raya, tidak sedikit brand yang mengalami penurunan signifikan pada minggu-minggu setelahnya.
Kondisi ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, di tengah meningkatnya biaya operasional dan persaingan digital yang semakin ketat, dampaknya kini terasa lebih besar bagi bisnis.
Fenomena Musiman yang Selalu Terjadi
Secara umum, Ramadan dan Lebaran menjadi salah satu periode dengan penjualan tertinggi dalam setahun, khususnya untuk kategori:
Fashion
Beauty
F&B
Gift & hampers
Namun setelah Lebaran, pola konsumsi masyarakat berubah.
Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan omzet:
Daya beli menurun setelah pengeluaran besar saat Lebaran
Konsumen memasuki fase “cooling down”
Tidak ada momentum besar seperti promo atau campaign
“Naik Cepat, Turun Juga Cepat”
Menurut Raynaldy, owner TBD Agency, banyak brand tidak siap menghadapi fase setelah Lebaran.
“Banyak bisnis fokus ke peak season, tapi tidak menyiapkan strategi setelahnya. Akhirnya omzet turun drastis karena tidak ada sustain system,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini sering terjadi setiap tahun, namun masih banyak yang belum mengantisipasi.
Masalah Utama: Terlalu Bergantung pada Momentum
Salah satu kesalahan terbesar brand adalah terlalu bergantung pada momen besar seperti Lebaran.
Selama Ramadan:
Ads dinaikkan besar-besaran
Promo berjalan agresif
Konten dibuat intens
Namun setelah Lebaran:
Budget iklan diturunkan drastis
Konten tidak konsisten
Tidak ada campaign lanjutan
Akibatnya, traffic dan penjualan ikut turun.
Biaya Tetap Jalan, Tapi Penjualan Turun
Yang menjadi tantangan lebih besar adalah:
Biaya operasional tetap berjalan
Biaya marketplace tetap dipotong
Biaya iklan tetap diperlukan
Namun di sisi lain, revenue justru menurun.
“Ini yang sering terjadi, cost tetap ada, tapi sales turun. Kalau tidak di-manage dengan benar, profit bisa langsung tergerus,” jelas Raynaldy.
Strategi Lama Tidak Lagi Cukup
Dalam kondisi ini, strategi marketing tidak bisa hanya mengandalkan momentum musiman.
Brand perlu mulai berpikir:
Bagaimana menjaga stabilitas omzet
Bagaimana tetap menghasilkan di low season
Bagaimana membangun sistem, bukan hanya campaign
Perubahan Pola: Dari Campaign ke System
Raynaldy menekankan bahwa bisnis yang stabil adalah bisnis yang memiliki sistem.
“Brand yang kuat itu bukan yang hanya ramai saat Lebaran, tapi yang tetap jalan setelahnya.”
Beberapa strategi yang bisa dilakukan:
Menjaga konsistensi ads (tidak langsung drop)
Membuat konten yang sustain (evergreen & conversion-based)
Mengoptimalkan live streaming sebagai daily sales engine
Mengembangkan campaign pasca-Lebaran
Peran Konten dan Live Setelah Peak Season
Setelah Lebaran, pendekatan marketing juga perlu berubah.
Jika saat Ramadan fokus pada:
Urgency
Promo besar
Campaign musiman
Maka setelah Lebaran fokusnya menjadi:
Value
Edukasi
Konsistensi
“Di low season, konten dan live jadi kunci. Ini yang menjaga bisnis tetap jalan walaupun tidak ada momentum besar,” ujar Raynaldy.
TBD Agency Jadi Solusi untuk Stabilkan Omzet
Melihat pola ini, TBD Agency hadir membantu brand untuk tidak hanya kuat di peak season, tetapi juga stabil di low season.
Sebagai digital marketing agency yang berbasis di Bandung, TBD Agency memiliki pendekatan:
1. Ads untuk Stabilitas, Bukan Hanya Peak
Menjaga performa iklan tetap optimal, tanpa harus bergantung pada momentum besar.
2. Content yang Sustain & Convert
Konten tidak hanya untuk campaign, tetapi menjadi mesin penjualan jangka panjang.
3. Live Streaming sebagai Daily Revenue
Dengan 15–20 studio live dan talent bersertifikasi TikTok, live dijadikan sebagai sumber penjualan harian, bukan hanya event musiman.
Dari Lonjakan ke Konsistensi
Beberapa brand yang menggunakan pendekatan ini mulai mengalami perubahan pola:
Tidak lagi hanya “ramai saat Lebaran”
Lebih stabil sepanjang tahun
Lebih terukur dari sisi profit
Low Season Bukan Masalah, Tapi Ujian Sistem
Penurunan omzet setelah Lebaran adalah hal yang wajar. Namun, dampaknya bisa berbeda tergantung kesiapan bisnis.
Brand yang hanya mengandalkan momentum akan:
Mengalami fluktuasi tinggi
Sulit menjaga profit
Sementara brand yang memiliki sistem akan:
Lebih stabil
Lebih terukur
Lebih siap scale
“Lebaran itu cuma boost. Tapi bisnis yang sehat harus bisa jalan tanpa momentum,” tutup Raynaldy.
