TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Achmad Saeful, Hadirkan Perspektif Baru tentang Mazhab Lewat Buku "Mazhab Tak Harus Seragam"

Ukuran huruf
Print 0

Dr. Achmad Saeful, M.A.

Jogja Pekan, Bekasi
 – Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan literatur keislaman yang mampu menjembatani perbedaan pandangan, akademisi dan penulis Dr. Achmad Saeful, M.A. menghadirkan sebuah karya bertajuk Mazhab Tak Harus Seragam: Inspirasi Fikih Inklusif 'Abd al-Wahhāb al-Sya'rānī. Buku setebal 266 halaman yang diterbitkan oleh Affinity Publisher ini menawarkan pendekatan yang lebih terbuka dalam memahami keragaman mazhab dalam Islam.

Kehadiran buku tersebut tidak sekadar menambah khazanah literatur fikih di Indonesia. Lebih dari itu, karya ini mencerminkan perjalanan intelektual penulis yang selama ini menaruh perhatian pada pengembangan pemikiran Islam yang dialogis, moderat, dan menghargai perbedaan. Rekam jejak akademiknya juga terlihat melalui sejumlah publikasi di bidang studi keislaman yang tercatat dalam basis data ilmiah nasional.

Dalam pengantar bukunya, Achmad Saeful mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap kecenderungan sebagian kalangan yang memandang hanya satu mazhab sebagai kebenaran mutlak. Menurutnya, tradisi intelektual Islam justru dibangun di atas kekayaan perbedaan pendapat para ulama yang semestinya dipahami sebagai bagian dari keluasan syariat, bukan sebagai sumber perpecahan. 

Buku Mazhab Tak Harus Seragam

Pandangan tersebut menjadi benang merah dalam keseluruhan isi buku. Sekitar sepertiga pembahasannya menguraikan gagasan utama mengenai fikih inklusif yang dikembangkan oleh tokoh sufi dan ulama besar, 'Abd al-Wahhāb al-Sya'rānī. Penulis menjelaskan bahwa perbedaan pendapat dalam fikih merupakan keniscayaan yang telah berlangsung sejak masa awal perkembangan hukum Islam. Karena itu, keragaman mazhab dipandang sebagai kekayaan intelektual yang memberi ruang kemudahan bagi umat dalam menjalankan ajaran agama.  

Melalui pendekatan tersebut, buku ini berusaha menghadirkan cara pandang yang lebih proporsional terhadap perbedaan. Pembaca diajak memahami bahwa setiap mazhab lahir dari proses ijtihad yang memiliki landasan argumentasi masing-masing. Oleh sebab itu, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan, melainkan menjadi ruang pembelajaran dalam memperluas wawasan keislaman. 

Sebagai akademisi, Achmad Saeful dikenal aktif mengembangkan kajian mengenai hukum Islam dan pemikiran keislaman. Sejumlah tulisannya membahas isu hak asasi manusia, pendidikan Islam, hingga fikih keadilan, yang menunjukkan konsistensinya dalam mengangkat tema-tema keislaman yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Di dalam buku ini, penulis juga memberikan perhatian pada fenomena berkembangnya sikap eksklusif dalam memahami fikih. Ia mengulas bagaimana fanatisme mazhab dapat memunculkan sikap saling menyesatkan apabila perbedaan dipahami secara sempit. Sebaliknya, konsep fikih inklusif yang ditawarkan al-Sya'rānī dinilai mampu menjadi alternatif untuk membangun budaya dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman pendapat di kalangan umat Islam. 

Tidak hanya mengupas konsep, buku ini juga membandingkan pemikiran al-Sya'rānī dengan sejumlah ulama kontemporer, termasuk Wahbah Zuhaili dan Yusuf al-Qardhawi. Pembahasan tersebut disusun secara sistematis mulai dari pengantar mengenai fikih inklusif, biografi intelektual al-Sya'rānī, konstruksi pemikirannya, kritik terhadap pendekatan eksklusif, hingga analisis relevansinya dalam kehidupan umat Islam masa kini. 

Direktur Utama Affinity Publisher, Muhammad Soleh, dalam pengantar penerbit menyebut buku ini sebagai salah satu kontribusi penting bagi pengembangan literatur keislaman di Indonesia. Menurutnya, karya tersebut menawarkan perspektif yang lebih arif dalam memandang perbedaan mazhab, sekaligus memperkuat semangat moderasi beragama di tengah masyarakat yang semakin beragam. 

Terbitnya buku Mazhab Tak Harus Seragam memperlihatkan bahwa karya ilmiah tidak harus berhenti di lingkungan akademik. Melalui bahasa yang komunikatif dan pendekatan yang mudah dipahami, Achmad Saeful berupaya membawa diskusi tentang fikih ke ruang publik yang lebih luas. Ia mengajak pembaca melihat bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan bagian dari dinamika intelektual Islam yang telah tumbuh selama berabad-abad.

Dengan hadirnya buku ini, masyarakat memperoleh alternatif bacaan yang tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang mazhab, tetapi juga menguatkan kesadaran bahwa dialog, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan nilai yang telah lama hidup dalam tradisi keilmuan Islam. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, mahasiswa, santri, maupun masyarakat umum yang ingin memahami fikih secara lebih komprehensif dan inklusif.

Achmad Saeful, Hadirkan Perspektif Baru tentang Mazhab Lewat Buku "Mazhab Tak Harus Seragam"
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin