TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Limbah Sayuran Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa KKN-PPM UMBY Kenalkan Pembuatan Pupuk Organik Cair di Dusun Bowongan

Salah satu kegiatan tersebut adalah edukasi tentang pemanfaatan limbah rumah tangga melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang dilaksanakan pada
Ukuran huruf
Print 0
Dokumentasi kegiatan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) bersama warga (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

JOGJA PEKAN, MAGELANG – Kelompok 73 Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyelenggarakan beragam aktivitas edukatif untuk warga Dusun Bowongan, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Salah satu kegiatan tersebut adalah edukasi tentang pemanfaatan limbah rumah tangga melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang dilaksanakan pada Minggu, 26 Juli 2026. 

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mahasiswa untuk memperkenalkan pengelolaan limbah organik yang mudah sekaligus memberikan manfaat bagi tanaman.

Proses pembuatan POC didasari oleh adanya limbah sayuran rumah tangga yang masih bisa dimanfaatkan kembali. 

Melalui edukasi ini, mahasiswa KKN mendorong masyarakat untuk tidak terburu-buru membuang limbah sayuran, melainkan mengolahnya menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. 

Selain mengurangi sampah rumah tangga, pemanfaatan tersebut juga dapat menjadi solusi sederhana untuk mendukung perawatan tanaman dan lahan di sekitar.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan untuk membuat POC, seperti sisa sayuran, air cucian beras, air bersih, EM4, serta molase atau tetes tebu. 

Bahan-bahan tersebut dipilih karena cukup mudah ditemukan dan dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik cair.

Mahasiswa kemudian menjelaskan tahapan-tahapan pembuatan POC kepada masyarakat serta mengajak mereka untuk ikut serta secara langsung dalam proses tersebut. Warga bersama mahasiswa mulai memotong limbah sayuran menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah diolah. 

Setelah itu, warga menambahkan bahan-bahan ke dalam wadah, menyertakan air cucian beras dan air bersih, lalu mencampurkan EM4 dengan molase atau tetes tebu. Semua bahan dicampur hingga rata sebelum dimasukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan untuk proses fermentasi.

Setelah pembuatan selesai, mahasiswa menyampaikan bahwa campuran tersebut harus menjalani proses fermentasi selama sekitar 10–14 hari. Wadah selanjutnya diletakkan di area yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung. 

Mahasiswa juga menguraikan hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses fermentasi, terutama karena proses tersebut dapat menghasilkan gas. Wadah sebaiknya tidak diisi sampai penuh dan tutup harus diperhatikan agar gas yang dihasilkan dapat dilepaskan secara teratur.

Selain menguraikan proses fermentasi, mahasiswa juga memperkenalkan ciri-ciri POC yang sudah mengalami fermentasi secara optimal serta metode penyimpanannya. 

POC disarankan untuk disimpan di lokasi yang terlindung dari sinar matahari langsung supaya kualitasnya tetap terjaga. Setelah fermentasi selesai, POC dapat digunakan untuk tanaman setelah dilakukan pengenceran terlebih dahulu. Untuk pengairan ke tanah, POC dapat dicampur dengan rasio 1:10.

Partisipasi masyarakat dimulai dari mengolah limbah sayuran, mencampur bahan, hingga menerapkan penggunaan POC pada tanaman, sehingga proses belajar berlangsung dengan cara yang praktis dan mudah dimengerti. 

Warga pun dapat melihat secara langsung bahwa limbah sayuran yang dulunya dianggap sebagai sampah rumah tangga masih bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.

Sejumlah warga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga yang sebelumnya belum banyak diketahui. “Sisa sayuran yang biasanya dibuang ternyata bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk,” ujar salah satu warga. Warga lainnya menambahkan, “Setelah ikut praktik tadi, jadi lebih paham cara membuat dan memanfaatkannya.”

Respons tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menyampaikan informasi tentang pembuatan POC, tetapi juga memperkenalkan pilihan pengelolaan limbah yang dapat dilaksanakan secara mandiri. 

Dengan melakukan praktik langsung, masyarakat diharapkan bisa mengimplementasikan pengetahuan yang didapat dengan memanfaatkan limbah organik yang ada di sekitar rumah sambil mendukung perawatan tanaman di area tempat tinggal.

Kegiatan selanjutnya dilaksanakan dengan penerapan POC pada tanaman di area ladang sekitar milik warga. 

Mahasiswa dan warga melakukan penyaluran POC yang sudah disiapkan setelah melewati proses fermentasi. 

Praktik ini merupakan bagian dari serangkaian edukasi supaya masyarakat tidak hanya mengerti proses pembuatan POC, tetapi juga memahami cara penggunaannya secara langsung.

Bagi mahasiswa KKN-PPM Kelompok 73, kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk mendorong masyarakat agar lebih cerdas dalam mengelola limbah di sekitarnya. 

Pengelolaan sampah secara mudah bisa dimulai di rumah dengan memanfaatkan bahan-bahan yang selama ini sering dianggap tidak bermanfaat.

Program edukasi mengenai pembuatan POC menjadi salah satu upaya Kelompok 73 KKN-PPM UMBY untuk memberikan wawasan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan mengolah limbah sayuran menjadi pupuk organik cair, mahasiswa mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada sekaligus menanamkan kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih berguna dan berkelanjutan.

Penulis: Kelompok 73 KKN-PPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Dusun Bowongan

Chania Dewi Santoso, Cikal Lintang Adzani, Dzakiy Putra Ramadi, Bayu Setyo Budi Susanto, Muhammad Hafidz Ilmi, Nova Mufidatul Khasanah, Nazwa Feliza Lesil, Nadiva Alya Wahyuning Putri, Nabiilah Marshania Putri, dan Azwa Naqiya.

Limbah Sayuran Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa KKN-PPM UMBY  Kenalkan Pembuatan Pupuk Organik Cair di Dusun Bowongan
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin