![]() |
| Foto bersama mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas AMIKOM, Bakesbangpol, narasumber, guru, dan pelajar peserta AKSARA DESA 2026. |
Yogyakarta, 21 Juli 2026 — Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas AMIKOM Yogyakarta berkolaborasi bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Yogyakarta dalam menyelenggarakan kegiatan “Aksi Bersuara dengan Santun” (AKSARA DESA) Tahun 2026 yang berlangsung di The Alana Malioboro pada Selasa pagi.
Dalam kolaborasi ini, mahasiswa Ilmu Pemerintahan turut ambil bagian sebagai bagian dari panitia penyelenggara, salah satunya bertindak sebagai moderator jalannya diskusi.
Mengusung tema besar “Sinergi Tiga Lensa: Menjaga Jiwa, Pikiran, dan Langkah Pelajar dari Jerat Kriminalitas Modern”, acara ini secara khusus mengangkat subtema “Mengupas Kejahatan Jalanan, Bullying, Scamming, dan Love Bombing dari Perspektif Hukum, Psikologi, dan Pendidikan”.
Tema ini diangkat sebagai respons atas kompleksitas kenakalan remaja masa kini yang tidak lagi terbatas pada persoalan konvensional seperti bolos sekolah atau tawuran, melainkan telah merambah ke ranah digital, mulai dari penipuan daring hingga manipulasi emosi berkedok cinta (love bombing).
Tiga Sudut Pandang, Satu Tujuan
Kegiatan yang dihadiri oleh pelajar dan guru pendamping dari berbagai sekolah di Kota Yogyakarta ini dirancang dengan format tiga sesi pemaparan yang saling melengkapi, masing-masing diikuti sesi tanya jawab interaktif.
Sesi pertama menghadirkan AKP Supriyadi, S.H., M.H., Kanit I Jatanras Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta, yang membawakan materi bertajuk “Jerat Pidana Kejahatan Jalanan, UU ITE pada Kasus Scamming, dan Perlindungan Hukum Anak”.
Melalui pemaparannya, para pelajar diajak memahami bahwa status di bawah umur bukan berarti bebas dari jerat hukum, karena setiap perbuatan pidana tetap memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Memasuki sesi kedua, giliran Dr. Veny Hidayat, M.Psi., Psikolog, mengupas sisi yang tak kalah penting yaitu luka psikologis yang kerap tak terlihat kasat mata.
Dengan subtema “Trauma Akibat Bullying, Motif Pelaku Kekerasan, dan Manipulasi Emosi dalam Love Bombing”, beliau menegaskan bahwa bullying bukan sekadar candaan biasa; jika hanya satu pihak yang tertawa sementara pihak lain terluka, maka hal tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai perundungan yang berpotensi menimbulkan trauma jangka panjang.
Sesi ketiga sekaligus penutup rangkaian pemaparan diisi oleh Prof. Dr. Dody Hartanto, S.Pd., M.Pd., Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan, yang membahas “Peran Sekolah/Kampus, Literasi Digital, dan Cara Bersuara dengan Santun tanpa Melanggar Etika”.
Dari sesi ini, para peserta memahami bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga benteng perlindungan karakter pelajar, serta bahwa bersuara secara asertif merupakan kecakapan yang dapat dipelajari dan dilatih.
Antusiasme Peserta Warnai Setiap Sesi
Setiap sesi tanya jawab dibuka untuk dua penanya dan mendapat antusiasme tinggi dari para pelajar, yang menunjukkan besarnya rasa ingin tahu generasi muda terhadap isu-isu kriminalitas modern yang mengancam mereka, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Harapan untuk Yogyakarta yang Lebih Aman
Dalam sambutan penutup, moderator acara yang juga merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas AMIKOM Yogyakarta menyampaikan bahwa tiga lensa yang telah dibahas hari itu — hukum, psikologi, dan pendidikan — saling melengkapi satu sama lain: hukum hadir untuk melindungi anak bukan untuk menakut-nakuti, psikologi membantu memahami luka yang tak terlihat agar lebih peka terhadap diri sendiri dan sesama, sementara pendidikan dan literasi digital menjadi bekal utama agar pelajar mampu melangkah dengan bijak.
Kolaborasi antara mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas AMIKOM Yogyakarta dan Bakesbangpol Kota Yogyakarta dalam kegiatan AKSARA DESA 2026 ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai catatan seremonial, melainkan menjadi bekal nyata bagi pelajar Kota Yogyakarta untuk bersuara dengan santun serta menjaga jiwa, pikiran, dan langkah mereka dari jerat kriminalitas modern, sejalan dengan cita-cita bersama mewujudkan Yogyakarta yang aman, tertib, dan bebas dari bullying.
