![]() |
| Tim PPK ORMAWA English Department Students Association (EDSA) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). (Foto: Dok/Ist). |
Jogjapekan, Sambirejo – Dalam upaya melestarikan kebudayaan lokal sekaligus merintis potensi wellness tourism (wisata kebugaran dan ketenangan jiwa), Tim PPK ORMAWA English Department Students Association (EDSA) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar simulasi uji kelayakan paket wisata di Kalurahan Sambirejo, Sleman, Yogyakarta.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) ini difokuskan di Sanggar Unggah Ungguh atau yang dikenal juga sebagai Griya Gamelan Mbah Djono. Sanggar tersebut merupakan pusat kegiatan warga Dusun Sumberwatu untuk berlatih karawitan, tarian Jawa, hingga membina etika (unggah-ungguh) bagi anak-anak setempat.
Simulasi ini merupakan bagian utama dari program andalan bertajuk Sambirejo Cultural Lab (SCL), sebuah inisiatif yang menjadikan Sanggar Unggah Ungguh sebagai laboratorium kebudayaan guna merevitalisasi tradisi Jawa yang kian tergerus arus globalisasi.
Sebanyak 19 peserta hadir mengikuti jalannya simulasi, yang terdiri dari tokoh masyarakat seperti Pak Waluyo selaku Ketua RT, Mbah Djono selaku sesepuh dan ahli karawitan/gamelan , Bu Watik selaku pengelola sanggar, Sir Puthut Ardianto, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Lapangan, tim pelaksana mahasiswa, hingga perwakilan mahasiswa KKN UGM dan warga sekitar. Simulasi ini juga melibatkan Suliman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) asal Afganistan, yang berperan sebagai wisatawan asing.
Saras Swara: Perpaduan Berkain, Alunan Gamelan, dan Mindfulness
Simulasi diawali pada pagi hari dengan pembekalan alur kegiatan (rundown). Peserta kemudian diajak untuk berkain—belajar mengenakan pakaian tradisional Jawa. Peserta wanita mengenakan kain jarik dan kebaya, sementara peserta pria mengenakan lurik atau surjan.Kegiatan dilanjutkan dengan simulasi paket wisata pertama, yaitu Saras Swara. Paket ini memadukan sesi mindfulness selama 30 menit yang dipandu langsung oleh Dosen psikologi UNISA yaitu Ratna Yunita Setiyani, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, dengan alunan lembut musik gamelan yang dimainkan secara apik oleh Mbah Djono.
Usai menenangkan pikiran, peserta disajikan kudapan tradisional khas Nusantara berupa ubi-ubian kukus dan wedang serai. Peserta kemudian dipandu untuk belajar memainkan gamelan menggunakan notasi dasar yang mudah dipahami. Dalam waktu sekitar 30 menit, para peserta sudah mampu membawakan satu tatanan lagu gamelan sederhana.
Ibu Ratna Yunita Setiyani atau akrab kami panggil Ibu Nita, memberikan apresiasi positif atas konsep paket wisata berbasis kesehatan mental dan budaya ini.
“Senang sekali bisa diajak ikut terlibat dalam simulasi paket wisata ini. Penggabungan sesi mindfulness dengan musik gamelan ini sangat unik dan seru, semoga bisa segera resmi diluncurkan,” ujar beliau.
Laras Laku: Menyusuri Jalan Setapak Bersejarah Menuju Candi Barong
Memasuki agenda kedua, peserta diajak mengikuti simulasi paket wisata Laras Laku, yaitu perjalanan berjalan kaki (trekking) menuju Candi Barong. Rute yang dilalui merupakan jalan setapak alami yang sebelumnya telah dibersihkan secara gotong royong oleh warga dan mahasiswa untuk membuka akses dari semak dan ilalang.Dalam rute perjalanan ini, Mbah Djono bertindak sebagai pemandu cerita (storyteller) yang memaparkan rekam jejak sejarah di sepanjang rute, sementara Pak Waluyo bertindak sebagai koordinator lapangan.
Peserta mendapatkan edukasi mengenai sejarah lokal, salah satunya tentang asal-usul nama Dusun Sumberwatu. Nama tersebut berasal dari keberadaan empat mata air alami yang mengalir dari celah-celah batu dan tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau. Peserta juga melintasi Sumur Pengomben dan Sumur Nduwet, sumber air bersejarah yang hingga kini masih dimanfaatkan warga untuk kebutuhan harian, minum ternak, hingga irigasi sawah.
Sebelum mencapai destinasi akhir di Candi Barong, peserta diajak singgah sejenak mengenal Situs Dawangsari. Tiba di area Candi Barong, Mbah Djono kembali mengulas riwayat candi sebelum kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Seluruh rangkaian simulasi berakhir pada pukul 13.00 WIB.
Kesan positif dirasakan oleh peserta simulasi, di antaranya Sayyida Nafisa Kurniawan dan Jonathan Marvin yang merupakan perwakilan mahasiswa KKN UGM di Dusun Sumberwatu.
“Paketnya seru banget, bisa jalan-jalan ke Candi Barong sampai foto-foto. Tapi yang paling kami suka adalah sesi mindfulness-nya, benar-benar berkesan,” ungkap Jonathan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Suliman, mahasiswa UMY asal Afganistan yang turut berperan sebagai wisatawan asing dalam simulasi. Ia mengaku sangat menikmati rangkaian kegiatan, mulai dari kegiatan mindfulness dan belajar langsung memainkan gamelan hingga mengikuti perjalanan menuju Candi Barong.
“Yeah, it was really good. I really enjoyed it. I could listen to and learn about gamelan directly. When we walked to Barong Temple, I was also really enthusiastic to listen to the stories about Sumberwatu and the history of Barong Temple. It was a very interesting experience for me.”
Menurut Suliman, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal budaya dan sejarah lokal secara langsung, tidak hanya melalui penjelasan, tetapi juga dengan mengunjungi dan merasakan sendiri suasana tempat-tempat bersejarah yang menjadi bagian dari paket wisata.
Melalui simulasi ini, Tim PPK ORMAWA EDSA PBI UMY beserta warga Kalurahan Sambirejo mendapatkan berbagai masukan dan evaluasi untuk terus menyempurnakan kualitas pelayanan serta alur program. Kehadiran Sambirejo Cultural Lab diharapkan dapat menjadi pijakan awal dalam mewujudkan Dusun Sumberwatu sebagai destinasi desa wisata berbudaya yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.
