![]() |
| Siti Khoningah bersama Dr. Yanti Sariasih, S.Pd., M.Pd., dalam sesi wawancara mengenai peran dan kiprah sebagai Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar |
Reporter: Siti Khoningah | Editor: Siti Khoningah
MAGELANG, Selasa, 6 Oktober 2026, 13:22 WIB — Dr. Yanti Sariasih, S.Pd., M.Pd., Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar periode 2023–2027, menjalankan pengelolaan akademik sekaligus Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui manajemen program studi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di Tengah banyaknya tanggung jawab tersebut, beliau mengembangkan kajian sastra lisan, budaya, dan etnopedagogi berbasis teknologi untuk mengangkat kearifan lokal dalam pendidikan.
Tanggung jawab sebagai Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia menuntut beliau menjalankan peran lebih banyak daripada kegiatan mengajar saja. Beliau perlu memastikan administrasi program studi tersusun rapi, dokumen tersimpan dengan baik, dan kebutuhan pengelolaan akademik dapat berjalan sesuai rencana. Dokumen tersebut disiapkan dalam bentuk berkas fisik maupun digital agar dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, monitoring, dan keperluan akreditasi.
“Yang menjadi perbedaan mencolok adalah administrasi dan manajemen,” ujar beliau ketika menjelaskan perbedaan tanggung jawab sebagai koordinator program studi dan dosen.
Dari
aspek administrasi, penataan dokumen menjadi bagian penting karena program
studi membutuhkan kelengkapan data yang dapat diakses ketika diperlukan.
Sementara itu, aspek manajemen berkaitan dengan perencanaan dan
pengorganisasian sumber daya yang dimiliki program studi. Beliau bertanggung
jawab memetakan dosen berdasarkan bidang kepakaran, menyesuaikan pengampu
dengan mata kuliah, dan merumuskan jadwal perkuliahan. Beliau juga
mengoordinasikan pemetaan roadmap penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat sesuai dengan sumber daya manusia yang tersedia.
Dr.
Yanti Sariasih, S.Pd., M.Pd., menjalankan amanah sebagai Koordinator Program
Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar untuk periode 2023–2027.
Pada saat yang sama, beliau tetap mengemban tugas sebagai dosen di Program
Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan S2 Pendidikan Bahasa
Indonesia. Kegiatan mengajar menjadi salah satu bagian dari Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang terus dijalankan beliau bersamaan dengan penelitian dan
pengabdian kepada masyakarat.
Dalam
bidang penelitian, beliau bekerja sama dengan rekan dosen sesuai dengan
kepakaran masing-masing. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara untuk
mengembangkan kajian akademik dan menghasilkan luaran penelitian. Berbeda
dengan penelitian, pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan menyalurkan
pengetahuan, keahlian, dan hasil penelitian melalui kegiatan yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti pelatihan, penyuluhan, dan lokakarya.
Keterlibatan beliau dalam pengabdian kepada masyarakat telah berlangsung sejak awal karier sebagai dosen pada tahun 2009. Beliau banyak terlibat dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang mendukung kemitraan dengan dunia pendidikan dan pembelajaran. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan keahlian akademik di luar lingkungan perguruan tinggi.
Saat ini, salah satu fokus pengabdian beliau adalah pengembangan dan penulisan buku cerita anak berbasis kearifan lokal Magelang. Kegiatan tersebut masih berjalan dengan perhatian pada kekayaan lokal yang dapat diangkat melalui cerita anak. Pengembangan bahan bacaan berbasis budaya daerah juga memiliki keterkaitan dengan pendidikan karena cerita dapat sarana untuk memperkenalkan lingkungan, tradisi, dan nilai-nilai lokal kepada anak sejak dini.
Di samping menjalankan tugas sebagai koordinator program studi dan dosen, beliau terus mengembangkan bidang keilmuan yang telah menjadi perhatiannya sejak tahun 2015, yaitu sastra lisan dan budaya. Bidang keilmuan tersebut dikaitkan dengan pendidikan berbasis kearifan lokal dan etnopedagogi. Kajian tersbeut juga dihubungkan dengan perkembangan teknologi agar pengembangan dan penyebarluasan pengetahuan dapat mengikuti kebutuhan zaman.
Ketertarikan beliau terhadap sastra lisan tumbuh dari pengalaman pribadi sejak kecil. Beliau mengenal kidung, dan ketika tumbuh besar di Sumatra, beliau dikenalkan dengan syair, pantun, dan gurindam. Pengalaman tersebut memupuk kedekatan beliau dengan tradisi lisan dan mendorong beliau untuk mempelajari kekayaan sastra yang berkembang di berbagai wilayah di Indonesia.
“Saya merasa kajian sastra ini unik karena setiap daerah itu punya keunggulan masing-masing, punya sastra lisan masing-masing,” jelas beliau.
Beliau memandang sastra lisan, budaya, dan kearifan lokal sebagai kekayaan yang perlu digali serta dikembangkan. Beliau mengibaratkan kekayaan tersebut sebagai batu permata yang perlu diasah agar nilai dan potensinya makin terlihat. Apabila dikaji dan diperkenalkan dengan baik, kekayaan sastra lisan dapat menjadi identitas atau branding suatu daerah.
Hasil pengembangan keilmuan beliau diwujudkan melalui penelitian, artikel ilmiah, dan buku. Artikel yang telah diterbitkan pada jurnal nasional maupun internasional membahas berbagai topik, antara lain mantra, legenda, dan kajian budaya. Dalam bentuk buku, karya yang berkaitan dengan sastra lisan meliputi Sastra Lisan dan Teori dan Konsep Tembang Batanghari Sembilan.
Kajian tentang budaya juga terus dikembangkan melalui penelitian bersama rekan-rekan beliau yang berfokus pada penggalian budaya Jawa Tengah, khususnya Magelang. Beliau bersama rekan dosen menulis artikel ilmiah tentang pendekatan multikultural yang dikaitkan dengan ranah pendidikan. Kajian tersebut mempertemukan pembahasan tentang keanekaragaman budaya dengan kebutuhan pendidikan, sehingga kekayaan budaya dapat dipahami dalam konteks pembelajaran dan kehidupan masyakarat.
Pengembangan etnopedagogi juga berlanjut melalui penyusunan buku yang membahas sastra, budaya, dan etnopedagogi. Saat diwawancarai, Dr. Yanti Sariasih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa buku tersebut sedang dalam proses penerbitan dan direncanakan terbit pada Desember 2026. Rencana penerbitan itu menjadi salah satu luaran yang sedang beliau persiapkan di tengah kegiatan pengajaran, penelitian, pengabdian, dan pengelolaan program studi.
Beragam tanggung jawab tersebut membuat manajemen waktu menjadi tantangan bagi beliau. Dalam satu semester, seorang dosen perlu menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang memiliki luaran berbeda, mulai dari artikel ilmiah dan penulisan buku hingga penelitian serta laporan kegiatan. Pekerjaan yang datang berdekatan dapat membuat rencana awal perlu diperiksa dan disesuaikan kembali. Kondisi tersebut makin menantan ketika suatu pekerjaan belum selesai, sedangkan tanggung jawab lain sudah harus dituntaskan.
Beliau mengaku bahwa dirinya sendiri masih terus belajar mengatur waktu. Salah satu cara yang beliau lakukan adalah membuat jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan secara terperinci. Agenda harian ditulis dalam buku catatan atau aplikasi catatan agar kegiatan yang harus diselesaikan dapat dipantau. Beliau juga memanfaatkan waktu luang dengan baik dan membuat jadwal khusus ketika menghadapi pekerjaan dengan tenggat waktu tertentu.
Dalam mengatur prioritas, beliau menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Beliau berusaha memisahkan kepentingan pribadi, keluarga, dan pekerjaan agar masing-masing memperoleh perhatian yang sesuai. Selama jam kerja, beliau berfokus pada tanggung jawab profesional. Di luar jam kerja, beliau berusaha menyediakan waktu bagi dirinya sendiri dan keluarga, Namun, ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan berdasarkan tenggat, beliau melakukan penyesuaian dengan menyusun jadwal khusus.
Dukungan keluarga menjadi salah satu hal yang membantu beliau menjalani berbagai tanggung jawab tersebut.Suami dan anak-anak memberikan dukungan sejak awal perjalanan kariernya di bidang akademik. Beliau juga menyebut teman-teman dari berbagai daerah, guru-guru sejak SMA hingga jenjang pendidikan tinggi, serta rekan sejawat di perguruan tinggi negeri dan swasta sebagai bagian penting dari sistem pendukungnya.
Beliau menilai bahwa setiap tanggung jawab memiliki tantangan yang perlu dihadapi. Selain permasalahan waktu dan banyaknya luaran akademik yang harus diselesaikan, beliau juga perlu menyeduaikan diri dengan ritme kerja orang lain. Beliau mengaku terbiasa bekerja cepat, sedangkan kerja sama dengan banyak pihak membutuhkan kesabaran dan kemampuan untuk beradaptasi.
Pengalaman menjalankan tugas akademik tersebut membuat beliau memiliki pesan untuk para mahasiswa. Beliau mengingatkan agar mahasiswa memahami kembali tujuan awal mereka menempuh pendidikan tinggi dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang mendukung tujuan tersebut. Menurut beliau, mahasiswa perlu menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dan mencapai target belajar. Hiburan tetap diperlukan, tetapi sebaiknya tidak mendominasi hingga menggeser prioritas utama.
Beliau menekankan pentingnya literasi yang tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi literasi dalam berinteraksi, menjaga tata krama, memahami informasi, memilih dan memilah informasi yang diterima. Beliau juga berpesan agar mahasiswa tidak berhenti mengembangkan diri setelah menyelesaikan pendidikan S1. Peningkatan ilmu, keterampilan, wawasan, dan jaringan perlu dilakukan agar mahasiswa mampu menghadapi perkembangan zaman.
Kepada sesama akademisi, beliau menyampaikan pesan singkat, “Salam kompak selalu!” Melalui pengelolaan akademik, kolaborasi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kajian kearifan lokal, beliau terus menjalankan perannya dalam mendukung perkembangan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
