![]() |
| Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist). |
Jogjapekan, Kolom - Sebuah Percakapan di Depan Gerbang : Suatu siang, seorang ibu menghampiri saya sambil menunggu anaknya pulang. "Bu, di sekolah katanya Naya bisa menuang air sendiri, merapikan pekerjaannya, bahkan menunggu giliran. Kenapa di rumah semuanya minta dibantu dan cepat sekali menangis?"
Saya tersenyum, karena pertanyaan ini hampir setiap tahun saya dengar.
Lalu saya balik bertanya dengan lembut, "Kalau di rumah, siapa yang
biasanya menuang air untuk Naya?" Ibu itu terdiam, lalu tertawa kecil.
"Saya, Bu. Biar cepat dan tidak tumpah."
Tidak ada yang salah dengan ibu itu. Ia mencintai anaknya dan ingin
memudahkan hidupnya. Namun percakapan sederhana ini membuka pertanyaan yang
lebih dalam, yang ingin saya bahas dalam tulisan ini: bagaimana orang tua
bisa mendampingi tanpa mengambil alih?
Mengapa Pendampingan Orang Tua Begitu
Menentukan
Sekolah, sebaik apa pun, hanya mengisi sebagian hari anak. Sisanya,
termasuk saat-saat paling emosional seperti bangun tidur, makan, mandi, dan
menjelang tidur, terjadi di rumah. Di situlah anak paling banyak belajar
tentang dirinya: apakah ia dipercaya, apakah perasaannya boleh ada, dan apakah
kesalahan itu aman.
Teori kelekatan (attachment theory) dari John Bowlby menjelaskan
bahwa anak membutuhkan figur yang dapat diandalkan sebagai secure base,
tempat aman untuk kembali sebelum berani menjelajah. Penelitian lanjutan dalam
tradisi ini secara umum menunjukkan bahwa kelekatan yang aman berkaitan dengan
kompetensi sosial dan regulasi emosi anak, meskipun bukan satu-satunya faktor. Artinya,
kemandirian tidak tumbuh dari dilepas begitu saja. Kemandirian tumbuh dari rasa
aman. Anak yang yakin orang tuanya ada untuknya justru lebih berani mencoba
sendiri.
Psikologi Positif dan Orang Dewasa yang
"Disiapkan"
Psikologi positif, yang diperkenalkan Martin Seligman dan Mihaly
Csikszentmihalyi pada tahun 2000, mempelajari apa yang membuat manusia
berkembang dengan baik, bukan hanya apa yang salah. Bagi orang tua, ini berarti
menggeser fokus: dari "Apa yang kurang dari anak saya?" menjadi
"Apa yang sudah tumbuh, dan bagaimana saya bisa merawatnya?"
Perlu ditegaskan, ini bukan pola asuh yang serba memuji atau menghindari
emosi sulit. Anak tetap perlu batas, dan kesedihan tetap boleh hadir.
Maria Montessori punya gagasan yang sejalan. Ia menekankan bahwa sebelum
menyiapkan lingkungan, orang dewasa perlu menyiapkan dirinya sendiri: belajar
mengamati tanpa menghakimi, menahan dorongan untuk segera membantu, dan
memercayai bahwa anak membawa dorongan alami untuk bertumbuh. Dalam komunitas Montessori,
gagasan ini sering disebut the prepared adult.
Teori Determinasi Diri dari Edward Deci dan Richard Ryan memberi bahasa
yang berguna di sini. Anak, seperti kita, membutuhkan rasa otonomi, kompetensi,
dan keterhubungan. Penelitian Wendy Grolnick tentang pengasuhan
menunjukkan bahwa orang tua yang mendukung otonomi, bukan mengontrol, cenderung
memiliki anak dengan motivasi belajar yang lebih mandiri.
Enam Prinsip Pendampingan Positif di Rumah
1. Amati sebelum bertindak
Montessori melatih guru untuk mengamati lebih lama daripada berbicara.
Orang tua bisa melakukan hal yang sama. Sebelum menolong, tanyakan pada diri
sendiri: apakah anak sedang berjuang, atau sedang belajar?
Di rumah: Naya
berusaha memakai sepatu dan sudah tiga kali terbalik. Alih-alih langsung
memakaikannya, ibunya menunggu sebentar, lalu bertanya, "Mau Mama
tunjukkan triknya, atau mau coba sekali lagi?" Naya memilih mencoba lagi.
Kali ini berhasil, dan wajahnya bersinar.
2. Bantu anak melakukannya sendiri
Salah satu ungkapan yang sering dikaitkan dengan Montessori adalah
permohonan anak: "Bantu aku melakukannya sendiri." Albert
Bandura menjelaskan bahwa keyakinan "aku bisa" (self-efficacy)
paling kuat tumbuh dari pengalaman berhasil secara langsung.
Di rumah: Siapkan
teko kecil berisi sedikit air dan gelas di rak rendah. Ya, akan ada yang
tumpah. Siapkan juga lap kecil. Tumpahan menjadi kesempatan belajar
membersihkan, bukan alasan untuk dimarahi.
3. Hargai proses, bukan label
Penelitian Elizabeth Gunderson dkk. (2013) menemukan bahwa pujian orang
tua yang menyoroti usaha dan strategi saat anak berusia 1–3 tahun berkaitan
dengan sikap anak yang lebih positif terhadap tantangan sekitar lima tahun
kemudian. Ini sejalan dengan gagasan growth mindset dari Carol Dweck.
Di rumah: Saat anak
menunjukkan gambarnya dan bertanya, "Bagus nggak, Ma?", coba jawab
dengan rasa ingin tahu: "Kamu pakai banyak warna biru. Ceritakan dong, ini
apa?" Anak belajar menikmati karyanya, bukan bergantung pada penilaian.
4. Terima emosinya, jaga batasnya
John Gottman, berdasarkan pengamatannya pada keluarga, memperkenalkan
istilah emotion coaching: orang tua menamai emosi anak dan membantunya
mencari jalan keluar, alih-alih mengabaikan atau menghukum perasaannya. Dalam
penelitiannya, pendekatan ini berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi anak
yang lebih baik.
Di rumah: Bima
menangis keras karena harus berhenti bermain. Ayahnya berlutut: "Kamu
kecewa, ya. Mainnya lagi seru." Setelah tangis mereda: "Mainan tetap
disimpan sekarang. Besok pagi kamu mau lanjutkan yang mana?" Perasaan
diterima, aturan tetap berlaku.
5. Kebebasan dalam batas
Prinsip Montessori freedom within limits sejalan dengan temuan
Diana Baumrind tentang pola asuh authoritative: hangat sekaligus tegas.
Pola ini umumnya dikaitkan dengan kemandirian dan kompetensi sosial yang lebih
baik dibanding pola asuh yang serba melarang atau serba membolehkan.
Di rumah: Berikan
pilihan yang nyata tetapi terbatas. "Kamu mau pakai kaus merah atau
kuning?" lebih mudah dijalani anak usia tiga tahun daripada "Mau
pakai baju apa?"
6. Siapkan rumah yang ramah anak
Lingkungan yang disiapkan tidak harus mahal. Cukup tertata, terjangkau,
dan dapat diprediksi. Mainan sedikit tetapi dirotasi, rak rendah, gantungan
baju setinggi bahu anak, dan rutinitas harian yang konsisten membantu anak
merasa aman dan mampu.
Di rumah: Satu
keluarga yang saya dampingi memindahkan perlengkapan makan anak ke laci bawah.
Dalam beberapa minggu, anak mereka mulai menyiapkan piringnya sendiri tanpa
diminta. Perubahan kecil, dampaknya terasa besar bagi rasa percaya diri anak.
Orang Tua Juga Perlu Dirawat
Psikologi positif tidak hanya berbicara tentang anak. Kesejahteraan
orang tua ikut menentukan suasana rumah. Banyak penelitian tentang stres
pengasuhan menunjukkan bahwa orang tua yang sangat tertekan cenderung lebih
sulit merespons anak dengan sabar dan konsisten.
Dokter anak sekaligus psikoanalis Donald Winnicott pernah memperkenalkan
gagasan good enough mother, orang tua yang "cukup baik".
Maksudnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan
orang tua yang hadir, mau memperbaiki kesalahan, dan kembali terhubung setelah
konflik.
Kristin Neff, peneliti self-compassion, mengajak kita
memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti kita memperlakukan
sahabat. Jadi ketika Anda kehilangan kesabaran hari ini, itu bukan akhir dari
segalanya. Tarik napas, minta maaf kepada anak bila perlu, dan coba lagi besok.
Tanpa disadari, Anda sedang memberi contoh growth mindset paling nyata
bagi anak.
Rumah dan Sekolah: Dua Lingkungan, Satu Pesan
Anak paling terbantu ketika pesan di rumah dan di sekolah sejalan. Bila
di sekolah anak dipercaya merapikan pekerjaannya, tetapi di rumah semuanya
dikerjakan untuknya, anak menerima dua pesan berbeda tentang kemampuannya.
Kemitraan ini tidak perlu rumit. Beberapa hal yang kami dorong di
sekolah:
- Saling
berbagi pengamatan. Orang tua menceritakan apa yang anak sukai di rumah; guru
menceritakan pekerjaan yang membuat anak larut berkonsentrasi.
- Bertanya
dengan pertanyaan yang membuka. Selain "Tadi belajar apa?",
coba "Tadi bagian mana yang paling seru?" atau "Ada yang
susah hari ini?"
- Menahan
diri dari membandingkan. Setiap anak punya ritme. Membandingkan dengan saudara atau teman
jarang menumbuhkan semangat, dan sering menumbuhkan rasa takut gagal.
- Datang
sebagai tim, bukan penilai. Saat ada kekhawatiran, kita duduk bersama untuk memahami anak,
bukan mencari siapa yang salah.
Refleksi Pribadi: Yang Saya Pelajari dari Para
Orang Tua
Latar belakang psikologi membuat saya terbiasa melihat perilaku anak
sebagai pesan. Namun bertahun-tahun mendampingi keluarga membuat saya sadar
bahwa perilaku orang tua pun adalah pesan. Orang tua yang terlalu cepat
membantu sering kali sedang menyampaikan rasa sayang, atau rasa cemas yang
belum tersampaikan. Orang tua yang terlalu keras sering kali sedang membawa
harapan besar, atau luka dari masa kecilnya sendiri. Karena itu, saya berusaha
tidak menggurui. Tidak ada orang tua yang memulai perjalanan ini dengan buku
panduan lengkap. Perubahan yang paling bertahan biasanya bukan datang dari
daftar tips, melainkan dari momen ketika orang tua mulai melihat anaknya
dengan cara baru: sebagai pribadi yang mampu, yang sedang belajar, dan yang
layak dipercaya.
Saya juga belajar bahwa Montessori di rumah tidak perlu sempurna. Rak
yang tidak rapi, hari yang penuh tangis, atau pagi yang tergesa-gesa tetap
bagian dari kehidupan keluarga. Yang lebih penting adalah arah: sedikit lebih
sabar, sedikit lebih percaya, sedikit lebih hadir.
Hadir, Percaya, dan Memberi Ruang
Beberapa minggu setelah percakapan di depan gerbang itu, ibu Naya
mengirimi saya pesan singkat. Pagi itu Naya menuang susunya sendiri. Sedikit
tumpah, lalu ia mengambil lap dan membersihkannya tanpa disuruh. "Saya
hampir menolong, Bu," tulisnya, "tapi saya tahan."
Menahan diri sejenak itu mungkin terlihat kecil. Namun di situlah inti
pendampingan: hadir cukup dekat untuk memberi rasa aman, dan cukup jauh untuk
memberi ruang tumbuh.
Tujuan kita sebagai orang tua bukan membesarkan anak yang selalu benar
atau selalu unggul. Tujuan kita adalah membantu anak tumbuh menjadi pribadi
yang percaya diri, mandiri, mampu mengelola perasaannya, berkarakter, dan
menikmati proses belajar. Dan perjalanan itu, kabar baiknya, bisa kita jalani
bersama-sama.
*)
Penulis adalah Dhany Marsa winda , Mahasiswa Fakultas Psikologi, Program Studi
Magister Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata (SCU).
Sumber
- Bandura,
A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. W.H. Freeman.
- Baumrind,
D. (1967). Child care practices anteceding three patterns of preschool
behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1).
- Bowlby,
J. (1988). A Secure Base. Basic Books.
- Deci,
E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "what" and "why"
of goal pursuits. Psychological Inquiry, 11(4).
- Dweck,
C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
- Gottman,
J. (1997). Raising an Emotionally Intelligent Child. Simon &
Schuster.
- Grolnick,
W. S. (2003). The Psychology of Parental Control. Lawrence Erlbaum.
- Gunderson,
E. A., dkk. (2013). Parent praise to 1- to 3-year-olds predicts children's
motivational frameworks 5 years later. Child Development, 84(5).
- Montessori,
M. (1949). The Absorbent Mind.
- Neff,
K. (2011). Self-Compassion. William Morrow.
- Seligman,
M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: An
introduction. American Psychologist, 55(1).
- Winnicott,
D. W. (1953). Transitional objects and transitional phenomena. International
Journal of Psycho-Analysis, 34.
