TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

Pemkot Yogyakarta Luncurkan Logo HUT Ke-270 Lewat Tradisi Wiwitan Beringharjo

Pemerintah Kota Yogyakarta merilis logo HUT ke-270 di Pasar Beringharjo, menandai dimulainya ratusan kegiatan kemasyarakatan hingga Oktober.
Ukuran huruf
Print 0

Pemkot Yogyakarta Luncurkan Logo HUT Ke-270 Lewat Tradisi Wiwitan Beringharjo. Sumber: warta.jogjakota.go.id

Jogja Pekan, Gondomanan - Pemerintah Kota Yogyakarta secara resmi meluncurkan logo, tema, dan rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-270 Kota Yogyakarta melalui prosesi Wiwitan di Pasar Beringharjo, Jumat (7/8/2026). Perayaan tahun ini mengusung tema "Otentik Konkret" yang diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni semata, melainkan ajang memperkuat jati diri daerah sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga.

Acara peluncuran tersebut dipimpin oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dengan didampingi Wakil Wali Kota Wawan Harmawan serta Sekda Budi Santosa Asrori.

Hasto menjelaskan bahwa tradisi Wiwitan dipilih sebagai pembuka karena sarat akan nilai filosofis Jawa, yakni simbol memulai sebuah langkah dengan doa, ketulusan, serta rasa syukur agar seluruh agenda membawa keberkahan.

"Perjalanan menuju Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta kita awali dengan memohon tuntunan Tuhan, kemudian kita lanjutkan dengan kerja bersama," ujar Hasto.

Pemilihan Pasar Beringharjo sebagai lokasi acara pun memiliki alasan kuat. Sebagai pasar tertua di Kota Jogja, tempat ini menjadi pusat denyut kehidupan masyarakat yang paling otentik, di mana warga saling berinteraksi, berdagang, dan menggerakkan perekonomian rakyat.

Guna mendukung para pelaku usaha lokal, seluruh kebutuhan acara - mulai dari kuliner hingga dekorasi - dibeli langsung dari para pedagang Pasar Beringharjo. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Pemkot Yogyakarta dalam menguatkan perputaran ekonomi daerah.

Pada kesempatan itu, Hasto turut memperkenalkan tema "Otentik Konkret". Makna "otentik" merujuk pada karakter serta nilai sejarah, kebudayaan, kehangatan, dan kebersamaan warga Jogja yang telah mengakar ratusan tahun. 

Sementara kata "konkret" menuntut aksi nyata yang berdampak langsung, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menggerakkan ekonomi warga, meningkatkan kualitas pelayanan publik, melestarikan budaya, hingga memperkuat kepedulian sosial.

Sebagai bentuk tindakan nyata dari tema tersebut, digelar aksi kerja bakti massal di 270 titik wilayah kota. Kegiatan ini memperluas jangkauan agenda kebersihan mingguan yang biasa dilaksanakan oleh jajaran pemerintah daerah.

"Tiap Jumat kami ada curve kerja bakti dari jam 07.00 sampai 08.30WIB melibatkan seluruh ASN, absen mereka di titik kerja bakti," jelas Hasto.

Ia menambahkan bahwa angka 270 bukan sekadar hitungan usia, melainkan simbol hadirnya ratusan ruang ruang gotong royong dan kepedulian warga dalam membangun Kota Yogyakarta.

Hasto juga mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Yogyakarta untuk lebih dekat dengan masyarakat.

"ASN kami minta tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi turun langsung mendengarkan aspirasi warga, memahami persoalan di lingkungan, dan menghadirkan solusi melalui kerja nyata," bebernya.

Kerja bakti ini dipandang sebagai wadah srawung (berinteraksi) yang menyatukan pemerintah, warga, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha dalam kedudukan yang setara demi menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan secara bersama-sama.

Rangkaian peringatan HUT Ke-270 Kota Yogyakarta ini direncanakan berlangsung selama dua bulan, sejak 7 Agustus hingga 7 Oktober 2026. Sebanyak 120 kegiatan akan digelar oleh dinas terkait, wilayah, sekolah, hingga komunitas warga.

Sejumlah acara menarik telah disiapkan, antara lain Kotabaru Heritage Film Festival, Festival Kabudayan Yogyakarta, Gemati Pasar Jogja, Festival Sastra Yogyakarta, Festival Prawirotaman, Batik Day, Bakpia Day, hingga Malioboro Day. Puncak seluruh perayaan akan ditutup dengan pagelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) pada 7 Oktober 2026.

Hasto berharap setiap gelaran acara dapat memberikan panggung partisipasi bagi UMKM, pegiat seni, pemuda, kelompok rentan, serta masyarakat tingkat kampung.

"Perayaan ini harus menggerakkan ekonomi, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kebanggaan sebagai warga Jogja," ungkapnya.

Di sisi lain, Sekda Kota Yogyakarta Budi Santoso Asrori optimistis durasi perayaan yang panjang ini bakal menjadi magnet wisatawan sekaligus sarana promosi daerah yang efektif.

"Durasi peringatan memang cukup panjang, menjadi salah satu event menarik wisatawan. Paling tidak sebagai branding wisata di kota Jogja, dan WJNC kembali dihadirkan setelah tahun lalu off," pungkasnya.

Pemkot Yogyakarta Luncurkan Logo HUT Ke-270 Lewat Tradisi Wiwitan Beringharjo
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin