| Tim Mahasiswa Magister Keperawatan UGM yang melaksanakan kegiatan edukasi dan terapi sujok bagi masyarakat |
Sejumlah jemaah Masjid Nurul Ashari belum langsung pulang selepas salat Zuhur. Perhatian mereka tertuju pada mahasiswa yang sedang berinteraksi dengan warga dan memperkenalkan terapi komplementer Sujok.
Awalnya, beberapa jemaah hanya mengamati kegiatan tersebut.
Rasa ingin tahu kemudian membuat mereka mendekat, bertanya mengenai Sujok, dan
sebagian memutuskan untuk ikut mencoba setelah mendapatkan penjelasan dari
mahasiswa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Magister
Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 25 dan 28 Agustus 2026, selepas salat Zuhur.
Selain menjadi kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini menjadi
kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pembelajaran mengenai terapi
komplementer secara langsung di tengah masyarakat.
Bagi sebagian warga, Sujok masih menjadi istilah yang belum
familiar. Oleh karena itu, sebelum terapi dilakukan, mahasiswa terlebih dahulu
melakukan pengkajian singkat terhadap keluhan peserta dan menjelaskan prosedur
kegiatan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Pada pelaksanaan hari pertama, 25 Agustus 2026, kegiatan ini
juga mendapat dukungan dari seorang mahasiswa Program Sarjana Keperawatan FKKMK
UGM yang turut membantu mahasiswa Magister Keperawatan selama kegiatan
berlangsung. Keterlibatan tersebut turut mendukung proses pelayanan dan
interaksi dengan warga di Masjid Nurul Ashari.
Pelaksanaan kegiatan ini mendapat pendampingan dari Prof.
Intansari Nurjannah, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D., selaku dosen pendamping sekaligus
Koordinator Mata Kuliah Complementary and Alternative Therapy (CAT).
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran
mahasiswa agar pengetahuan dan keterampilan terapi komplementer yang telah
diperoleh di kelas dapat diterapkan secara tepat dalam kegiatan bersama
masyarakat.
Sujok merupakan salah satu pendekatan terapi komplementer
yang menggunakan konsep korespondensi tubuh pada tangan dan kaki. Istilah Su
merujuk pada tangan dan Jok pada kaki. Dalam praktiknya, stimulasi
diberikan pada titik-titik tertentu sesuai pendekatan Sujok dan keluhan yang
disampaikan peserta.
Penjelasan sederhana mengenai Sujok membuat interaksi antara
mahasiswa dan warga berkembang secara natural. Beberapa peserta mulai bertanya
mengenai titik-titik pada tangan, sementara peserta lainnya memperhatikan
proses terapi yang sedang dilakukan. Pengurus masjid turut membantu selama
kegiatan sehingga warga maupun jemaah yang ingin bertanya atau mengikuti
kegiatan dapat terlayani dengan tertib.
Beberapa jemaah awalnya datang ke masjid hanya untuk
melaksanakan salat Zuhur. Setelah melihat kegiatan dan mendapatkan penjelasan,
mereka kemudian tertarik untuk mengenal Sujok lebih lanjut. Salah seorang
jemaah bahkan mengajak rekannya untuk ikut mengenal kegiatan tersebut.
Salah satu peserta menyampaikan keluhan pada ibu jarinya
yang terasa kaku, nyeri, dan sulit ditekuk sehingga mengganggu aktivitas
sehari-hari. Setelah mengikuti terapi, peserta mencoba kembali menggerakkan ibu
jarinya dan menyampaikan bahwa jarinya terasa lebih mudah digerakkan serta
nyeri yang dirasakan berkurang.
“Saya senang sekali, sekarang jari saya sudah bisa ditekuk
dan nyerinya berkurang. Kalau nanti ada kegiatan seperti ini lagi, saya ingin
ikut lagi,” ujarnya.
Pengalaman tersebut merupakan respons subjektif yang
disampaikan peserta setelah mengikuti terapi dan tidak dimaksudkan sebagai
kesimpulan mengenai efektivitas klinis terapi Sujok. Respons setiap individu
terhadap terapi komplementer dapat berbeda.
Cerita peserta tersebut turut menarik perhatian warga
lainnya. Beberapa kemudian bertanya kepada mahasiswa mengenai Sujok,
titik-titik yang digunakan, serta bagaimana terapi tersebut diterapkan.
Dalam memberikan edukasi, mahasiswa juga menjelaskan bahwa
Sujok merupakan terapi komplementer atau pendamping dan tidak menggantikan
pemeriksaan, diagnosis, maupun pengobatan medis yang diperlukan. Peserta tetap
dianjurkan untuk mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan apabila keluhan
menetap, memburuk, atau menunjukkan kondisi yang memerlukan penanganan lebih
lanjut.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pengurus Masjid
Nurul Ashari. Menurut pengurus masjid, warga menunjukkan ketertarikan karena
sebagian dari mereka sebelumnya belum mengenal terapi Sujok.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk masyarakat
kami. Warga terlihat antusias, apalagi setelah dijelaskan tentang terapi Sujok.
Banyak yang penasaran dan ingin mencoba,” tuturnya.
Pengurus masjid berharap kegiatan kesehatan serupa dapat
kembali diselenggarakan. Kegiatan berikutnya juga diharapkan dapat dilengkapi
dengan pemeriksaan kesehatan dasar, seperti pengukuran tekanan darah, terutama
bagi warga yang membutuhkan pemantauan kesehatan secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan dasar tersebut merupakan harapan untuk
pengembangan kegiatan kesehatan berikutnya dan bukan merupakan bagian dari
prosedur terapi Sujok.
Pelaksanaan kegiatan di Masjid Nurul Ashari memberikan
pengalaman tersendiri bagi mahasiswa karena interaksi dengan masyarakat
berlangsung dalam suasana keseharian. Tidak semua peserta datang karena
mengetahui sebelumnya bahwa akan ada kegiatan Sujok. Sebagian datang untuk
beribadah, kemudian melihat aktivitas mahasiswa, bertanya, dan akhirnya
tertarik untuk mengenal terapi komplementer tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari “Integrasi
penelitian, pengajaran dan pengabmas tahun 2026”, yang menghubungkan proses
pembelajaran akademik dengan penerapan ilmu serta kegiatan pengabdian kepada
masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk membawa
pengetahuan yang dipelajari di ruang kelas ke lingkungan masyarakat sekaligus
belajar memahami respons dan kebutuhan warga secara langsung.
Pertemuan dengan warga menjadi pengalaman belajar yang tidak
hanya berkaitan dengan keterampilan terapi. Mahasiswa juga belajar melakukan
pengkajian singkat, mendengarkan keluhan, berkomunikasi dengan peserta dengan
berbagai karakter, serta menyampaikan informasi kesehatan menggunakan bahasa
yang mudah dipahami.
Interaksi selama kegiatan menunjukkan pentingnya komunikasi
dalam pelayanan keperawatan. Ada warga yang aktif bertanya, ada yang memilih
mengamati terlebih dahulu, dan ada pula yang tertarik mencoba setelah
mendapatkan penjelasan.
Di sinilah pembelajaran keperawatan bertemu dengan kehidupan
sehari-hari masyarakat. Peran perawat tidak hanya berkaitan dengan pemberian
pelayanan ketika seseorang mengalami masalah kesehatan, tetapi juga mencakup
kemampuan mendengarkan keluhan, memberikan edukasi, membangun komunikasi, dan
membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan yang dapat dipahami.
Bagi warga, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk
mengenal salah satu pendekatan terapi komplementer sekaligus berdiskusi secara
langsung mengenai kesehatan. Edukasi yang diberikan juga membantu peserta
memahami posisi terapi komplementer sebagai terapi pendamping yang tetap perlu
digunakan secara tepat sesuai kondisi masing-masing individu.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar
untuk menghubungkan pengetahuan, keterampilan, komunikasi, etika, dan
profesionalisme dengan situasi nyata di masyarakat. Keterlibatan seorang
mahasiswa Program Sarjana Keperawatan pada hari pertama juga menambah
pengalaman kolaborasi dalam mendukung pelaksanaan kegiatan di masyarakat.
Kegiatan pengenalan dan terapi Sujok di Masjid Nurul Ashari
dilaksanakan dalam dua kesempatan, yaitu pada 25 dan 28 Agustus 2026. Interaksi
sederhana selepas salat Zuhur berkembang menjadi ruang diskusi antara mahasiswa
dan warga mengenai terapi komplementer dan kesehatan.
Tim pengabdian kepada masyarakat menyampaikan apresiasi
kepada pengurus Masjid Nurul Ashari yang telah memberikan ruang dan dukungan
selama kegiatan berlangsung. Dukungan pengurus serta keterlibatan warga membantu
kegiatan berjalan dengan tertib sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa
untuk belajar secara langsung bersama masyarakat.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus
dikembangkan sebagai ruang pertemuan antara pembelajaran di perguruan tinggi
dan kebutuhan kesehatan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan dasar maupun kegiatan
edukasi kesehatan lainnya juga dapat dikembangkan sebagai kegiatan tersendiri
sesuai kebutuhan warga.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa
penerapan ilmu tidak berhenti pada keterampilan melakukan suatu terapi.
Kemampuan mendengarkan, berkomunikasi, memberikan edukasi, menjaga etika, dan
memahami batas penggunaan terapi komplementer juga menjadi bagian penting dari
proses pembelajaran.
Bagi sebagian jemaah, pertemuan hari itu mungkin bermula dari rasa ingin tahu ketika melihat aktivitas mahasiswa selepas Zuhur. Dari rasa ingin tahu tersebut kemudian tumbuh percakapan tentang kesehatan dan menjadi sebuah pertemuan sederhana yang membawa pembelajaran dari ruang kelas lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.