TUW5BSClTpA5TSO9GSzpTpz9GA==
Breaking
News

"Galak" Belum Tentu Tak Sayang: Membaca Pola Asuh Anak dari Kacamata Budaya

Ukuran huruf
Print 0
Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).

Jogjapekan, Edukasi - Mengapa cara mengasuh yang dianggap ideal di satu tempat bisa terasa asing di tempat lain, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan semua anak di mana pun mereka tumbuh.

Bayangkan dua ibu di sebuah taman bermain.

Ibu pertama membiarkan anaknya yang berusia empat tahun memanjat perosotan dari arah yang salah. "Biar dia belajar sendiri," katanya sambil tersenyum. Ibu kedua langsung menghampiri anaknya, menggandeng tangannya, dan berbisik, "Ayo salim dulu sama budhe di sana."

Mana yang lebih baik?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya ternyata rumit. Ibu pertama mungkin akan dipuji di satu lingkungan karena "menumbuhkan kemandirian", dan dicap "cuek" di lingkungan lain. Ibu kedua mungkin dianggap "terlalu mengekang" oleh sebagian orang, tetapi di mata keluarganya ia sedang menanamkan sesuatu yang sangat berharga: rasa hormat.

Di sinilah psikologi multikultural mengajak kita berhenti sejenak. Cara kita mengasuh anak, mulai dari cara menidurkan, menegur, hingga memuji, tidak pernah lahir di ruang hampa. Semuanya dibentuk oleh budaya. Dan budaya, seperti yang akan kita lihat, punya banyak sekali versi tentang apa artinya menjadi orang tua yang baik.

"Resep" Pengasuhan yang Ternyata Tidak Universal

Sejak 1960-an, dunia psikologi mengenal pembagian gaya pengasuhan dari psikolog Amerika, Diana Baumrind (Baumrind, 1966). Ada orang tua otoritatif (hangat tapi tegas), otoriter (tegas tanpa banyak kehangatan), permisif (hangat tapi serba membolehkan), dan belakangan ditambah abai (tidak hangat, tidak pula tegas; Kuppens & Ceulemans, 2019).

Puluhan tahun penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa gaya otoritatif adalah juaranya. Anak-anak dari orang tua yang hangat sekaligus tegas cenderung lebih berprestasi, lebih percaya diri, dan lebih sehat mentalnya. Sebaliknya, gaya otoriter dianggap kurang baik (Kuppens & Ceulemans, 2019).

Kesimpulan ini lalu menyebar ke seluruh dunia lewat buku, seminar parenting, hingga unggahan media sosial. Masalahnya, sebagian besar penelitian itu dilakukan pada keluarga kulit putih kelas menengah di negara Barat (Lansford, 2022).

Ketika data mulai "memberontak"

Kejutan datang pada awal 1990-an. Para peneliti menemukan bahwa remaja keturunan Asia di Amerika justru sangat berprestasi di sekolah, padahal orang tua mereka banyak yang masuk kategori "otoriter" (Chao, 1994; Pinquart & Kauser, 2018). Bagaimana mungkin?

Ruth Chao, peneliti keturunan Tionghoa, menawarkan jawaban yang mengubah cara pandang banyak ahli. Menurutnya, alat ukur Barat gagal menangkap makna pengasuhan Tionghoa. Dalam budaya itu ada konsep guan, yang artinya "mengatur" sekaligus "mengasihi". Ketika seorang ibu Tionghoa mengawasi ketat jam belajar anaknya, ia tidak sedang bersikap dingin. Ia sedang menunjukkan cinta (Chao, 1994).

Di sinilah kuncinya: perilaku yang sama bisa punya makna yang sama sekali berbeda, tergantung budaya tempat ia terjadi. Tegas di satu budaya bisa terasa seperti penolakan. Di budaya lain, tegas justru bukti bahwa orang tua peduli (Lansford dkk., 2018; Pinquart & Kauser, 2018).

Mandiri, Tapi Tak Harus Jauh

Perdebatan lain yang sering muncul: haruskah anak dididik mandiri sejak dini, atau dibiarkan dekat dan bergantung pada keluarga?

Di banyak negara Barat, bayi sudah tidur di kamar sendiri sejak usia beberapa bulan. Tujuannya jelas: melatih kemandirian. Sementara di banyak keluarga Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, tidur bersama anak adalah hal biasa, bahkan dianggap bentuk kasih sayang dan perlindungan (Lansford, 2022).

Psikolog Turki, Çiğdem Kağıtçıbaşı, menawarkan jalan tengah yang menarik. Menurutnya, kemandirian dan kedekatan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Anak bisa dididik untuk otonom sekaligus terhubung: mampu berpikir dan mengambil keputusan sendiri, tapi tetap merasa menjadi bagian dari keluarganya (Kağıtçıbaşı, 2005, 2017).

Kağıtçıbaşı mengamati bahwa pola ini makin banyak muncul di negara-negara berkembang yang sedang bertransformasi. Orang tua tidak lagi menuntut kepatuhan mutlak, tapi juga tidak ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang "lepas" dari akar keluarga. Terdengar familiar? Mungkin karena inilah yang sedang dijalani banyak keluarga Indonesia hari ini (Riany dkk., 2017).

Satu Hal yang Sama di Semua Budaya

Lalu, apakah semua pola asuh sama benarnya asalkan sesuai budaya? Tidak juga.

Penelitian di berbagai negara menunjukkan ada satu kebutuhan anak yang tampaknya berlaku di mana saja: kebutuhan untuk merasa diterima dan disayangi. Psikolog Ronald Rohner dan koleganya menemukan bahwa anak yang merasa ditolak orang tuanya cenderung lebih mudah marah, kurang percaya diri, dan emosinya lebih labil, di budaya mana pun ia tinggal (Khaleque & Ali, 2017; Rohner & Lansford, 2017).

Yang berbeda hanyalah bahasa cintanya. Ada orang tua yang mengungkapkan sayang lewat pelukan dan kata "Mama bangga sama kamu". Ada pula yang mengungkapkannya lewat sepiring nasi hangat setiap pagi, atau kerja keras membanting tulang agar anak bisa sekolah setinggi-tingginya. Yang penting, anak menangkap pesan itu sebagai cinta.

Bagaimana dengan hukuman fisik? Sebuah penelitian besar di enam negara, mulai dari Kenya, Filipina, hingga Thailand, menemukan bahwa di negara yang menganggap pukulan sebagai hal biasa, dampak buruknya memang lebih kecil (Lansford dkk., 2005). Tapi tetap ada. Anak yang sering dipukul tetap lebih cenderung agresif dan cemas (Heilmann dkk., 2021). Artinya, budaya bisa memperhalus dampak, tapi tidak membuat kekerasan menjadi aman.

Indonesia: Membesarkan Anak dengan Banyak Tangan

Ada pepatah Afrika yang populer: butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Di Indonesia, pepatah ini nyaris tak perlu dijelaskan.

Di banyak keluarga kita, pengasuhan bukan monopoli ayah dan ibu. Ada nenek yang menyuapi, kakek yang mendongeng, tante yang mengantar ke sekolah, kakak yang menjaga adik, bahkan tetangga yang ikut menegur bila si kecil nakal. Anak Indonesia belajar sejak dini bahwa dirinya adalah bagian dari jaringan yang lebih besar (Riany dkk., 2017).

Setiap suku pun punya kearifannya sendiri. Antropolog Hildred Geertz (1961), dalam penelitiannya tentang keluarga Jawa, mencatat bahwa balita Jawa cenderung dimanjakan karena dianggap durung Jawa, belum "jadi orang". Seiring bertambah usia, barulah anak diajarkan rasa isin (malu), wedi (segan), dan sungkan (hormat kepada yang lebih tua). Di Minangkabau, mamak atau paman dari pihak ibu ikut berperan membimbing kemenakan. Di banyak keluarga, nilai agama menjadi fondasi yang menyatukan semuanya (Riany dkk., 2017).

Di persimpangan zaman

Kini, orang tua Indonesia berdiri di persimpangan. Di satu sisi, ada warisan nilai: hormat pada orang tua, sopan santun, kebersamaan. Di sisi lain, ada derasnya informasi parenting dari luar negeri lewat media sosial: gentle parenting, positive discipline, Montessori, dan seterusnya.

Tak sedikit orang tua muda yang galau. Apakah membiasakan anak salim dan berbahasa halus itu "kuno"? Apakah membiarkan anak membantah itu "modern"? Psikologi multikultural menjawab: tidak perlu memilih salah satu secara buta. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk memilah mana nilai yang ingin dipertahankan, mana praktik yang perlu diperbarui, dan mana gagasan baru yang cocok diadaptasi, bukan sekadar ditiru.

Lima Pelajaran untuk Orang Tua Masa Kini

Lalu, apa yang bisa kita bawa pulang dari kacamata psikologi multikultural?

1. Kenali "resep warisan" Anda. Coba tanyakan pada diri sendiri: nilai apa yang ingin saya tanamkan pada anak, dan dari mana keyakinan itu berasal? Banyak cara kita mengasuh adalah warisan dari orang tua kita sendiri. Menyadarinya adalah langkah pertama untuk memilih dengan bijak.

2. Pastikan cinta Anda "terbaca" oleh anak. Tegas boleh, aturan boleh, tapi anak perlu merasa disayangi. Sesekali, ungkapkan cinta dengan cara yang langsung ia pahami: pelukan, waktu bermain bersama, atau sekadar mendengarkan ceritanya tanpa menyela.

3. Tegas tanpa kekerasan. Menanamkan sopan santun dan disiplin adalah tujuan yang baik. Tapi tujuan itu bisa dicapai tanpa pukulan dan bentakan, misalnya dengan menjelaskan alasan, memberi contoh, dan konsisten pada konsekuensi (Heilmann dkk., 2021).

4. Latih mandiri tanpa memutus akar. Biarkan anak memakai baju sendiri, merapikan mainan, dan memilih menu sarapan. Di saat yang sama, ajak ia mengunjungi kakek-nenek, mengenal bahasa daerah, dan ikut tradisi keluarga.

5. Jangan cepat menghakimi pola asuh orang lain. Tetangga yang tampak "galak" atau ipar yang tampak "terlalu membebaskan" bisa jadi sedang mengasuh dengan nilai yang berbeda, bukan dengan cinta yang lebih sedikit.

Penutup: Banyak Jalan Menuju Anak yang Bahagia

Kembali ke dua ibu di taman bermain tadi. Barangkali keduanya sama-sama orang tua yang baik, masing-masing dengan caranya sendiri. Yang satu sedang mengajarkan keberanian, yang lain sedang mengajarkan rasa hormat. Keduanya adalah bekal penting bagi anak yang kelak hidup di dunia yang makin beragam.

Psikologi multikultural tidak memberi kita satu resep sempurna. Ia memberi sesuatu yang mungkin lebih berharga: kerendahan hati untuk memahami bahwa ada banyak jalan menuju anak yang sehat dan bahagia, dan keberanian untuk tetap berpegang pada satu hal yang tak bisa ditawar, yaitu anak yang merasa dicintai dan aman.

 

*) Penulis adalah Dhany Marsa Winda, Mahasiswa Fakultas Psikologi, program studi Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (SCU). 

 

Daftar Pustaka

Baumrind, D. (1966). Effects of authoritative parental control on child behavior. Child Development, 37(4), 887–907. https://doi.org/10.2307/1126611

Chao, R. K. (1994). Beyond parental control and authoritarian parenting style: Understanding Chinese parenting through the cultural notion of training. Child Development, 65(4), 1111–1119. https://doi.org/10.2307/1131308

Geertz, H. (1961). The Javanese family: A study of kinship and socialization. Free Press of Glencoe.

Heilmann, A., Mehay, A., Watt, R. G., Kelly, Y., Durrant, J. E., van Turnhout, J., & Gershoff, E. T. (2021). Physical punishment and child outcomes: A narrative review of prospective studies. The Lancet, 398(10297), 355–364. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00582-1

Kağıtçıbaşı, Ç. (2005). Autonomy and relatedness in cultural context: Implications for self and family. Journal of Cross-Cultural Psychology, 36(4), 403–422. https://doi.org/10.1177/0022022105275959

Kağıtçıbaşı, Ç. (2017). Family, self, and human development across cultures: Theory and applications (Classic ed.). Routledge.

Khaleque, A., & Ali, S. (2017). A systematic review of meta-analyses of research on interpersonal acceptance–rejection theory: Constructs and measures. Journal of Family Theory & Review, 9(4), 441–458.

Kuppens, S., & Ceulemans, E. (2019). Parenting styles: A closer look at a well-known concept. Journal of Child and Family Studies, 28(1), 168–181.

Lansford, J. E. (2022). Annual research review: Cross-cultural similarities and differences in parenting. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 63(4), 466–479. https://doi.org/10.1111/jcpp.13539

Lansford, J. E., Chang, L., Dodge, K. A., Malone, P. S., Oburu, P., Palmérus, K., Bacchini, D., Pastorelli, C., Bombi, A. S., Zelli, A., Tapanya, S., Chaudhary, N., Deater-Deckard, K., Manke, B., & Quinn, N. (2005). Physical discipline and children's adjustment: Cultural normativeness as a moderator. Child Development, 76(6), 1234–1246. https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.2005.00847.x

Lansford, J. E., Godwin, J., Al-Hassan, S. M., Bacchini, D., Bornstein, M. H., Chang, L., Chen, B.-B., Deater-Deckard, K., Di Giunta, L., Dodge, K. A., Malone, P. S., Oburu, P., Pastorelli, C., Skinner, A. T., Sorbring, E., Steinberg, L., Tapanya, S., Peña Alampay, L., Uribe Tirado, L. M., & Zelli, A. (2018). Longitudinal associations between parenting and youth adjustment in twelve cultural groups: Cultural normativeness of parenting as a moderator. Developmental Psychology, 54(2), 362–377. https://doi.org/10.1037/dev0000416

Pinquart, M., & Kauser, R. (2018). Do the associations of parenting styles with behavior problems and academic achievement vary by culture? Results from a meta-analysis. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 24(1), 75–100. https://doi.org/10.1037/cdp0000149

Riany, Y. E., Meredith, P., & Cuskelly, M. (2017). Understanding the influence of traditional cultural values on Indonesian parenting. Marriage & Family Review, 53(3), 207–226. https://doi.org/10.1080/01494929.2016.1157561

Rohner, R. P., & Lansford, J. E. (2017). Deep structure of the human affectional system: Introduction to interpersonal acceptance–rejection theory. Journal of Family Theory & Review, 9(4), 426–440.

"Galak" Belum Tentu Tak Sayang: Membaca Pola Asuh Anak dari Kacamata Budaya
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin